14 Desember 2013

Survei Indikator Politik: Politik Uang, PKS Terendah



JAKARTA -- Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan kecenderungan perilaku menerima politik uang menurut massa pemilih partai masih tinggi. Massa pemilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) disebut pemilih tertinggi yang menerima politik uang, yakni sebanyak 47 persen.

"Kecenderungan menerima politik uang tertinggi massa PKB. Terendah, massa pemilih PKS," kata Direktur Eksekutif Indokator, Burhanuddin Muhtadi, di Jakarta, Kamis (12/12).

Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah itu mengatakan, dari jajak pendapat yang dilakukan pada Maret 2013 itu, penerimaan terhadap politik uang tidak berhubungan dengan jenis kelamin. Kecenderungan juga tidak terkait usia atau domisili.

Faktor penyebab pemilih PKB lebih tinggi penerimaannya terhadap politik uang dibandingkan parpol lain, menurutnya, disebabkan beberapa aspek. Yaitu, tingkat pendidikan dan pendapatan.

"Semakin tinggi pendidikan semakin kecil kecenderungan menerima pemberian. Semakin besar pendapatan, semakin kecil kecenderungan menerima pemberian," ujar Burhanuddin.

Ia menuturkan, pemilih PKB merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang latar belakang pendidikan dan ekonominya masih rendah. Sehingga, kecenderungan menerima pemberian dari calon cukup tinggi. Sedangkan pemilih PKS merupakan masyarakat kelas menengah yang cenderung terdidik dan stabil secara ekonomi.

"Pemilih PKS juga punya kedekatan dengan partainya, ikatan righ or wrong is my party sangat kuat. Sehingga kecenderungan menerima politik uang lebih rendah," tuturnya.

Survei dilakukan di 39 dapil di daerah Jawa, Sumatra Utara, dan Sulawesi dilakukan Indikator pada September-Oktober 2013. Dengan jumlah sampel di setiap dapil sebanyak 400 orang. Sementara survei nasional dilakukan pada bulan Maret 2013. Dengan jumlah sampel 1.200 orang yang dipilih secara acak denganmargin of error sebesar 2.9 persen. Profil demografi responden terdiri dari 50 persen wanita dan 50 persen laki-laki. Dengan domisili di pedesaan (50.4 persen), dan perkotaan (49.6 persen).