17 Agustus 2021

PKS Boyolali Laksanakan Upacara Peringatan HUT RI ke-76


Dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76, Dewan Pimpinan Tingkat Daerah (DPTD) PKS Boyolali menggelar upacara bendera di halaman kantor DPTD PKS Boyolali, diikuti secara terbatas oleh jajaran pengurus DPTD PKS Boyolali. Upacara berlangsung hikmat dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Bertindak selaku inspektur upacara, Bpk. Tugiman B. Semita yang merupakan Ketua Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Boyolali. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa dalam kondisi Pandemi yang belum tampak ujungnya ini, seluruh kader PKS Boyolali harus bersinergi untuk menghadirkan solusi dan pelayanan kepada masyarakat.


Sebagai bentuk pelayanan PKS kepada masyarakat di masa Pandemi ini, dilaksanakan pula serah terima paket bantuan sembako secara simbolik kepada perwakilan masyarakat yang terdampak. Pembagian paket sembako ini merupakan bagian dari program nasional PKS, yaitu pembagian 1,7 juta paket sembako di seluruh Indonesia.

2 Mei 2021

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan (Syahrut Tarbiyah)

 


Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di peringati setiap tanggal 2 Mei sesuai dengan Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Kebetulan peringatan Hardiknas tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Bulan yang istimewa karena dibulan inilah wahyu pertama diturunkan.

Konsep Pendidikan dari Q.S. Al-'Alaq

Pada bulan Ramadhan wahyu pertama yang di jadikan pertanda pengangkatan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul di turunkan, yaitu dengan turunnya surat Al-Alaq ayat 1-5. Dalam surat Al-Alaq ini dapat kita temukan beberapa konsep pendidikan dalam Islam. 

Bedasarkan surat Al-'Alaq, konten pendidikan yang baik dan memiliki pengaruh kuat terhadap hati manusia haruslah mencakup materi pembelajaran yang bisa menumbuhkan, membina, mengarahkan, mendidik, dan mampu mengembangkan potensi dasar manusia.

Salah satu konsep pendidikan dalam Islam adalah dengan pengulangan. Sebagaimana kita temukan pengulangan perintah Iqra' pada ayat 1 dan 3 surat Al-'Alaq. Al-Maraghi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa pengulangan perintah membaca dalam ayat ketiga ini menunjukkan salah satu cara bagi orang tersebut menguasai apa yang ia pelajari karena dengan pembiasaan seperti ini dapat membekas di jiwa.

Mengulangi dalam membaca memiliki makna juga mengulangi objek bacaannya. Dengan mengulangi bacaan tersebut, maka apa yang telah ia baca akan menjadi miliknya (menguasainya). Melihat makna Iqra’ yang luas mencakup seluruh aktifitas yang berhubungan dengan segala kegiatan untuk membaca  (menganalisis, mengklasifikasikan, membandingkan, menyimpulkan, dan membuktikan), merupakan proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau menguasai objek yang dipelajarinya.

Kata iqro’ juga disandingkan dengan sifat Allah yang Maha Mulia. Hal ini dapat bermakna bahwa Allah akan memuliakan orang yang menutut ilmu dengan mengangkat derajatnya, karena seorang yang memiliki ilmu tidaklah sama dengan orang yang tidak berilmu. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah pada surat Az-Zumar ayat 9,

Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat memerima pelajaran.”

Ramadhan adalah Syahrut Tarbiyah

At-tarbiyah merupakan mashdar dari robba yurobbi asal kata robaa yarbuu yang artinya tumbuh dan berkembang, robiya yarbaa: menjadi besar, serta robba yarubbu: menuntun, memelihara atau menjaga. Oleh karena itu manusia bisa berkembang dalam hidupnya dengan proses pembelajaran serta menjadikannya bertanggung jawab dengan urusannya. 

Puasa di bulan Ramadhan merupakan puasa wajib yang harus di lakukan oleh seluruh umat islam yang telah baligh dan berakal sehat, seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah Ayat 183,

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Sehingga, untuk mencapai atau menyelesaiakan puasa Ramadhan, setiap muslim harus memperhatikan hal-hal yang mengurangi pahala puasa dan bahkan membatalkan puasanya. Rasulullah SAW telah memperingatkan hal tersebut dalam sebuah hadist,

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i)

Beberapa hal yang mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala orang yang berpuasa menurut Habib Zain bin Smith dalam kitab al-Fawaidul Mukhtarah li Saliki Tariqil Akhirah adalah,

  1. Orang berpuasa tapi tidak meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang bisa menghilangkan pahala puasa, seperti, menggunjing orang lain, mengadu domba, dan berbohong. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah,

Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu”. (HR Ad-Dailami)

  1. Di dalam hati orang yang berpuasa ada sifat riya’ (ingin dipuji oleh orang lain) atau merasa bahwa dirinya lebih baik dari yang lain

  2. Berbuka puasa dengan sesuatu yang haram.
    Selain bisa menghilangkan pahala puasa, lebih dari itu berbuka dengan sesuatu yang haram juga bisa membuat seseorang merasa berat untuk melakukan suatu ibadah, sehingga akan sangat mudah meninggalkannya. Dengan kata lain, berbuka puasa dengan makanan haram bisa membuat diri seseorang yang puasa malas beribadah (Habib Zain bin Smith,
    al-Fawaidul Mukhtarah li Saliki Tariqil Akhirah, h. 587).

Ketentuan-ketentuan Allah SWT mengenai puasa Ramadhan yang demikian sempurna mengisyaratkan kemuliaan dan pentingnya puasa bagi orang yang beriman, sehingga ini seharusnya menjadi momen bagi setiap orang beriman untuk senantiasa menarbiyah/mendidik diri utamanya hati mereka agar tujuan utama dari diberikannya syariat puasa yaitu menjadi orang yang bertaqwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam firmannya,

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”. (QS Al- Baqarah 2:183)

Semoga kita semua senantiasa di beri kekuatan oleh Allah untuk menjalani puasa ramadhan tahun ini dengan baik, sehingga kita akan mencapai hari kemenangan dan keluar sebagai orang yang bertaqwa. Aamiin. (ES)



Referensi

Humaedi, I. (2020). Konsep Pesan Pra-Nubuwwah yang Terkandung dalam Wahyu Pertama Kali Turun Surah AL 'Alaq 1-5. Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 110-121.

Sunnatullah. (2021, April 15). NU Online. Retrieved Mei 2, 2021, from NU Online: https://islam.nu.or.id/post/read/128060/tiga-sebab-yang-membatalkan-pahala-puasa

28 April 2021

Nuzulul Qur'an, Sebuah Refleksi Kebangkitan Ilmu Pengetahuan di Tangan Umat Islam

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Karena hanya pada bulan Ramadhan pahala ibadah yang kita lakukan akan dilipatgandakan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Ramadhan juga menjadi bulan yang istimewa, karena pada bulan inilah permulaan Al-Qur'an diturunkan. Wahyu sekaligus mu'jizat yang menjadi penanda lahirnya risalah baru bagi umat manusia. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah Ayat 185,

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)."

Ayat Al-Qur'an yang pertama kali diwahyukan adalah kalimat اقرأ dalam bentuk amr (perintah), yang berasal dari kata قرأ yang berarti “membaca”. Namun, yang menarik adalah, ketika ayat yang bernada perintah “bacalah!” diwahyukan melalui Jibril kepada Rasulullah SAW di Gua Hira', ternyata obyek yang dibaca tidak ada, bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak bisa membaca (ummiy). Karenanya, menurut ar-Raghib al-Ashfahani kata قرأ di sana bermakna “menghimpun”, artinya seseorang belum bisa dikategorikan membaca kecuali ia telah menghimpun kata dan mengucapkannya. Sehingga dapat dimaknai bahwa perintah membaca pada ayat tersebut secara umum bermakna menghimpun informasi sebanyak-banyaknya, dari mana saja sumbernya, dan membaca dalam perintah ini mencakup bacaan yang bersifat ilahiyah seperti apa yang di turunkan Allah ke Nabi-Nya ataupun yang manusia dapatkan di sekitarnya baik yang tertulis dan tidak tertulis. Baiquni melihat, kandungan perintah dalam ayat tersebut menunjukan supaya manusia memiliki keimanan berdasarkan pengetahuan tentang adanya otoritas dan kehendak Tuhan.

Dalam ayat tersebut juga tersirat pesan ontologis sumber ilmu. Pada saat Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membaca, sedangkan yang menjadi obyek bacaanya tidaklah definitif, bisa beraneka rupa, baik berupa kalamullah yang diwahyukan saat itu, ataupun ayat-ayat yang malhuzh (tidak tertulis) misalnya alam raya dan isinya.

Perintah اقرأ dengan beragam maknanya seperti; bacalah, ketahuilah, telitilah, fahamilah, dalamilah segala sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, diri sendiri, sejarah yang tertulis dan yang tidak tertulis menjadi pondasi sekaligus pendorong aktivitas keilmuan (ilmiah) dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Membaca ayat-ayat Allah yang tersurat dalam Al-Quran (Qauliyah) dapat menghasilkan ilmu keagamaan seperti Tauhid, Akhlak, Fikih, dsb. Adapun membaca ayat Allah dalam wujud makhluk ciptaannya (Kauniyah), misalnya manusia; dari aspek fisiknya bisa didapatkan sains, seperti ilmu tentang raga dan ilmu kedokteran; dari aspek amaliyahnya bisa dihasilkan ilmu ekonomi, sosiologi, politik, dsb; serta dari aspek kejiwaannya dapat muncul ilmu kejiwaan atau psikologi. Hal ini menunjukan bahwa ontologi atau sumber segala bidang ilmu adalah ayat-ayat Allah, sehingga pada hakikatnya ilmu adalah milik Allah SWT.

Tepatlah kiranya jika dipahami bahwa ada hubungan yang erat dan saling berkelindan antara pendidikan dengan wahyu pertama ini. Ahmad Tafsir menerangkan bahwa, “Permulaan Al-Quran turun melalui ayat yang berkenaan dengan pendidikan.” Hal senada disampaikan Hasan Langgulung, “Tegaknya ajaran yang dibawa ini akan terwujud dengan didasari oleh ilmu sebagaimana yang ditunjukan ayat yang pertama kali turun.”

Maka sewajarnyalah umat Islam menjadi umat yang paling haus akan ilmu pengetahuan bahkan menguasainya, baik ilmu diniyah (agama) maupun ilmu duniawiyah (keduniaan). Tidak ada lagi alasan bagi umat islam untuk tertinggal dari bangsa barat yang saat ini menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia. Sudah saatnya umat islam bangkit dengan ilmu pengetahuan, karena sesungguhnya umat islamlah yang memiliki sumber dari ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, yaitu Al-Quran. (ES)



Referensi:

Humaedi, I. (2020). KONSEP PESAN PRA-NUBUWWAH YANG TERKANDUNG DALAM WAHYU PERTAMA KALI TURUN SURAH AL’ALAQ 1–5. Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 110-121.

Ummah, S. R. (2017). RELEVANSI PERINTAH IQRA’ PADA WAHYU PERTAMA BAGI MASYARAKAT MODERN. PANCAWAHANA: Jurnal Studi Islam, 21-38.



26 April 2021

Beri Pelayanan di Bulan Ramadhan, BPKK DPC PKS Teras Bagikan Kebutuhan Dapur

 Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPC PKS Teras mengadakan kegiatan bertajuk "PKS TERAS BERBAGI" pada hari Ahad, 25 April 2021. Dalam kegiatan ini, BPKK DPC PKS Teras membagikan paket kebutuhan dapur rumah tangga untuk masyarakat.  

Ibu Jaini, Ketua BPKK DPC PKS Teras, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini melibatkan ibu-ibu kader Teras dan merupakan bentuk nyata pelayanan PKS kepada masyarakat.

Kegiatan ini disambut hangat oleh masyarakat. Saryadi, salah seorang warga RT. 01, RW. 04, Desa Randusari, mengutarakan kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat untuk warga. 

"Untuk sekian kali pengurus DPC PKS Teras menyelenggarakan kegiatan sosial seperti ini. Harapan kami, PKS kedepannya lebih baik dan tetap istiqomah bersama rakyat", ucap Saryadi kepada salah satu pengurus BPKK, Ibu kismiyanti.

Baksos ini dilaksanakan di depan sekretariat DPC PKS Teras untuk mengisi kegiatan di bulan suci ramadhan 1442 H. Sebanyak 200 paket kebutuhan dapur rumah tangga berupa sabun cuci piring, detergent cair, dan pengharum dibagikan kepada masyarakat yang melalui jalan di depan kantor DPC PKS Teras. 


21 April 2021

R.A. Kartini: Perempuan Harus Cerdas, Berpendidikan

 

Setiap dari kita, manusia di bebankan dua kewajiban, yaitu untuk mejadi seorang hamba yang menyembah kepada Allah ( Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56) dan menjadi seorang khalifah di muka bumi ini (Q.S. al-Baqarah: 30). Untuk menjalankan tugas kita tersebut, tentu di butuhkan ilmu agar tidak salah dalam menjalankan tugas, sehingga menuntut ilmu dalam pandangan Islam merupakan sebuah kewajiban. Kewajiban menuntut Ilmu telah banyak di jelaskan dalan Al-quran dan Hadis Rasul. Dalam sebuah hadist, Rasulullah Muhammad SAW menyebutkan bahwa :

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW juga menyebutkan keutamaan menuntut ilmu dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Dalam Al-Quran Allah menjanjikan akan mengangkat beberapa derajat orang yang berilmu, Allah berfirman dalam surat Al Mujadalah Ayat 11 yang artinya

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kewajiban menuntut ilmu atau berpendidikan tinggi bukan hanya dibebankan kepada seorang laki-laki yang mana nanti akan menjadi seorang kepala keluarga, namun juga untuk perempuan. Karena perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu yang akan menentukan bagaimana anaknya kelak, seperti yang dikatakan oleh seoarang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut:

Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”

Artinya: Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Dari syair tersebut dapat kita ambil poinnya bahwa, karakter anak, kecerdasan anak, dan bahkan masa depan anak sangat tergantung dari bagaimana ibunya mendidik. Untuk dapat memerankan peran tersebut, perempuan haruslah memiliki pendidikan yang bagus.

Dalam sejarah Indonesia, kita pernah disuguhkan sebuah masa dimana peran perempuan masih sangat terbatas, bahkan dalam hal memperoleh pendidikan, dan mungkin kondisi seperti itu juga masih ada di beberapa daerah di Indonesia sampai hari ini. padahal dalam konstitusi negara kita yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Dalam ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, baik laki-laki maupun perempuan.

Perjuangan kaum perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak telah di mulai sejak lama, salah satu tokohnya adalah RA Kartini. RA Kartini merupakan tokoh perempuan yang di beri gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam mengentaskan pendidikan kaum perempuan melalui pandangan-pandangannya tentang pendidikan. Melalui tulisan-tulisan dan surat-suratnyalah banyak yang menjadikan konsep pendidikan RA Kartini sebagai rujukan dalam pendidikan perempuan.

RA Kartini memberikan pandangannya tentang apek perempuan sebagai pendidik pertama, pandangan tersebut di tulikannya dalam sebuah surat yang di kirimkan kepada N.V.Z, yang dimuat di Kolonial Weekblad pada tanggal 25 Desember 1902, dalam surat tersebut RA Kartini mengatakan :

Bukan tanpa alasan orang mengatakan Kebaikan dan kejahatan dimulai anak bersama air susu ibu. Alam sendirilah yang menunjuk dia untuk melakukan keajiban itu. Sebagai seorang ibu dialah pendidik pertama anaknya. Di pangkuannya anak pertama belajar merasa, berfikir, berbicara. Dan dalam kebanyakan hal pendidikan pertama-tama bukan tanpa arti untuk seluruh hidupnya. Tangan ibulah yang meletakkan benih kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia, yang tidak jarang dibawa sepanjang hidupnya. Dan bagaiman sekarang ibu-ibu Jawa dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak terdidik? Peradaban dan kecerdasan bangsa Jawa tidak akan maju dengan pesatnya, kalau perempuan dalam hal itu terbelakang.”

Dalam surat tersebut sudah barang mesti seorang ibu haruslah memiliki pendidikan yang bagus.

Kemudian, RA Kartini juga menuliskan bahwa pendidikan harus mampu menanamkan moralitas yang akan membentuk anak atau siswa berwatak ksatria, dalam surat tersebut Kartini menuliskan:

Kesadaran anak-anak harus dibangunkan, bahwa mereka harus memenuhi panggilan budi dalam masyarakat terahadap bangsa yang akan mereka kemudikan. Keajiban para guru adalah menjadikan anak-anak perempuan yang dipercayakan kepada mereka, menurut pandangan mereka yang sebaik-baiknya dan dengan sekuat tenaganya perempuan-perempuan yang beradab, cerda, sadar, akan panggilan budinya dalam masyarakat. Menjadi ibu yang penuh kasih saying, pendidikan yang berbudi dan cakap. Dan selanjutnya agar dengan cara apapun juga berguna dalam masyarakat yang dalam tiap bidang sangat memerlukan pertolongan.”

Dalam tulisan tersebut, Kartini menyebutkan bahwa pendidikan harus mampu menyempurnakan kecerdasan berfikir (cipta) dan kepekaan budi pekerti (rasa).

Begitulah konsep pendidikan seorang perempuan yang di bawa olah RA Kartini dalam mengentaskan kaum perempuan dari buta huruf pada zamannya. Karena menurut RA Kartini perempuan memiliki 2 peran yaitu dalam keluarga yang tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu, dan dalam masyarakat sebagai pembawa peradaban. Dan hanya perempuan terdidiklah yang sanggup menjalankan kedua peran itu dengan baik. (ES)



Referensi

Affandi, M. t. (2020, Oktober 19). Berita. Retrieved April 21, 2021, from Gontor: https://www.gontor.ac.id/berita/kewajiban-menuntut-ilmu-dalil-dari-al-quran-dan-hadits

Anonim. (2020, Agustus 19). Berita Hari Ini. Retrieved April 2021, 2021, from Kumparan: https://kumparan.com/berita-hari-ini/hukum-menuntut-ilmu-menurut-pandangan-islam

Murtafiah, E. (2019, Maret 19). IAIN Surakarta. Retrieved April 21, 2021, from IAIN Surakarta: https://iain-surakarta.ac.id/pentingnya-peran-ibu-sebagai-madrasah-al-ula-dalam-pendidikan-anak/.

Muthoifin, Ali, M., & Wachidah, N. (2017). PEMIKIRAN RADEN AJENG KARTINI TENTANG PENDIDIKAN PEREMPUAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM. Profetika, Jurnal Studi Islam, 36-47.

Rohman, N. M. (2017). PEMIKIRAN R.A KARTINI TENTANG PENDIDIKAN WANITA DI JAWA 1891-1904. 36-48.