28 Februari 2014

Kader Non Caleg Ini Ikhlas Jual Rumah Tempat Tinggalnya

DEMI DAKWAH: Bagi PKS, kemenangan Pemilu adalah kemenangan dakwah. Kemenangan untuk berbuat lebih baik lagi dalam melayani masyarakat. Foto salah satu pelayanan sosial PKS di Jateng

SEMARANG: Jual harta benda pribadi untuk modal kampanye mungkin hal biasa. Calon anggota legislatif (caleg) memang perlu modal besar untuk sosialisasikan dirinya. Namun apa jadinya jikaada kader non caleg yang sampai rela menjual rumah tempat keluarganya berteduh untuk kampanye PKS? Dia makhluk langka!
Ini kisah nyata dari Mojoroto Jatinom, Sidoharjo, Wonogiri. Sebuah kabupaten di perbatasan Jawa Tengah. Faqih (38 tahun)ikhlas menjual rumah tempat tinggalnya untuk modal kampanye meraup 3000 suara PKS. Dia ingin partai dakwah ini menang di daerah pemilihannya di Sidoharjo.Pria sederhana ini tak rela jika PKS tak dapat kursi di Dapil 2 Wonogiri hanya karena masalah dana.
Faqih, bukanlah caleg. Bukan pula petinggi elit partai. Dia hanya seorang kader biasa. Seorang wiraswasta kecil yang penghasilannya tidak menentu. Ingin dirinya berinfaq untuk kemenangan partai dakwah ini, tapi apa daya tabungan pun tak ada. Hanya rumah yang ditinggali Faqih beserta istri dan empat anak, harta paling berharga yang dimilikinya.
Setelah berunding dengan istriya, SMS pun dilayangkan Faqih kepada pimpinan partai.“Pak, njenengan sampaikan k Pak Hadi (Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW PKS Jateng, Red) atau siapa kalau berkenan. Ane lg mau jual rumah dan pkarangane u kampanye PKS Pak yg d Mojoroto Jatinom. Harga pasaran 120 jt, tp mau aku jual 80 jt aja Pak, yg separo u kampanye sidoharjo Pak. Kondisi rumah skrg lengkap sangat layak pake, tanah 430 m2. Pengin iuran kampanya tp belum ada uang, biar ada 3000 suara u sidoharjo
Jika hasil penjualan rumahnya telah terkumpul, Faqih berniat menginfaqkannya untuk pemenangan PKS di kecamatan Sidoharjo yang masuk dalam Dapil 2 Wonogiri (Ngadirojo, Nguntoronadi, Girimarto, Jatipuro dan Sidoharjo).
Subhanallah.Benarlah firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 46:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا
”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”
Catatan redaksi:
Bagi Anda yang berminat membeli rumah Faqih sekaligus berinfaq bagi kemenangan PKS di Sidoharjo Wonogiri, dapat menghubungi redaksi PKS Jateng Online ke email: [email protected]

20 Februari 2014

"Menciptakan Kemenangan di Alam Jiwa" | Anis Matta


Sebelum sebuah kemenangan benar-benar terjadi di alam nyata, sebenarnya kemenangan itu sudah terjadi di alam jiwa. Kemenangan di alam jiwa itu tampak dari kemantapan hati orang-orang yang akan bertarung. Hal tersebut disampaikan Anis Matta pada acara “Election Update” yang diselenggarakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pada Selasa (18/2), di Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

Dalam konteks kemantapan hati itu, menurut Anis, ada tiga poin penting yang harus diingat. Tiga poin ini akan mendatangkan kekuatan dan ketenangan. Dengan demikian, tiga poin ini perlu ditanamkan di dalam diri.

“Pertama, keikhlasan. Kita semua telah mengorbankan umur, harta, tenaga, dan kita masih akan berkorban lebih banyak lagi pada hari-hari yang akan datang. Kita berharap bahwa itu semua diterima oleh Allah. Kita tanamkan keikhlasan di dalam hati. Kita berharap, mudah-mudahan apa yang telah kita lakukan diterima oleh Allah,” kata Anis.

Setelah poin tentang keikhlasan, Anis menekankan pentingnya pengorbanan. Anis bertutur, “Kita semua hidup dalam kondisi yang sangat sulit, jauh berbeda dari pemilu 2009 lalu. Keadaan kita ini mirip kisah sahabat masa lalu, yang ingin pergi berperang, namun tidak punya sarana untuk pergi berperang. Tapi kita tetap berusaha semaksimal mungkin. Karena kata Allah, tidak akan pernah kita menerima kebaikan, kecuali kita mengorbankan apa yang kita cintai. Maka kita harus mengorbankan apa yang masih mungkin untuk kita korbankan.”

Poin ketiga, lanjut Anis, adalah ma’rifatullah atau mengenal Allah. “Kadang-kadang, ketika kita kerja di lapangan dan menghadapi situasi yang sulit, kita kehilangan persepsi yang benar terhadap Allah. Manusia sering tidak menakar Allah dengan takaran yang sebenarnya. Kita melupakan bahwa semua situasi ini masih dalam kendali Allah,” terangnya.

Presiden PKS itu lalu menyitir hadist qudsi yang menyatakan bahwa Allah sesuai sangkaan hamba-Nya. “Untuk itu, prasangka baik terhadap Allah harus terus dihadirkan. Dalam saat-saat seperti ini, selain kerja keras, kita perlu mengirim lebih banyak doa kepada Allah melebihi hari-hari sebelumnya,”

Anis juga mengingatkan bahwa prasangka baik terhadap Allah merupakan bagian dari akidah. “Cara kita menafsirkan hasil pemilu, itu merupakan bagian dari akidah kita. Dari sekarang kita harus punya tafsir tunggal bahwa apapun hasil pemilu nanti, itu karena memang Allah menginginkan hasil itu!” tegasnya. (DLS/MFS)

*pkspiyungan.org

Ketum DPW PKS Jateng Sabet The Best Legislator Award 2014

Ketua DPW PKS Jawa Tengah Abdul Fikri Faqih

Semarang - Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah (Jateng) A. Fikri Faqih terpilih menjadi salah satu penerima The Best Legislator Award 2014.
"Penghargaan diberikan kepada legislator yang kinerjanya selama menjadi anggota dewan dinilai baik, kritis, memiliki "leadership" yang baik, bukan hanya bagi konstituen di daerah pemilihannya, melainkan memberi kontribusi dan manfaat bagi bangsa dan negara," jelas Ketua Berlian Organizer Haryanto seperti terlansir Republika Online.
Bambang menambahkan Penghargaan ini diberikan kepada caleg pertahana dan caleg pendatang baru dari tingkat DPR RI asal Dapil Jateng, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
"Penilaian bagi caleg pendatang baru diukur dari catatan prestasi dan aktivitas sosial kemasyarakatan." ungkapnya.
Haryanto menjelaskan bahwa Berlian Organizer adalah sebuah kelompok kerja wartawan di Semarang yang menjembatani persoalan - persoalan antara eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers serta komponen masyarakat di Jawa Tengah.
Dari DPRD Provinsi terpilih Wakil Ketua DPRD dan politikus PKS Drs. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., Ketua Fraksi PPP dan anggota Komisi B Drs. H. Istajib A.S., politikus PDI Perjuangan Ir. H. Alwin Basri, M.I.Kom., M.M. (Ketua Komisi D DPRD Jateng), politikus PKB Fuad Hidayat, S.Sos., M.Si. (Ketua Komisi A), dan anggota Komisi C Bambang Eko Purnomo, S.E. (Partai Demokrat).
Dari DPRD Kabupaten/Kota, yakni Ketua DPRD Sragen H. Sugiyamto, S.H., M.H. dan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Klaten H. Sunarto, S.E., M.M. Adapun caleg pendatang baru, antara lain dr. H. Syafi'i, M.Kes. (PPP), politikus Nasdem H.M. Prasetyo, S.H., dan politikus Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.
Dari DPR RI tercatat Anggota Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo,  Sekjen PPP Ir. M. Romahurmuziy, M.T., Ketua DPP Golkar Firman Soebagyo, S.E., M.H., anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dr. Dewi Aryani, M.Si., dan Ketua Fraksi PAN DPR RI Ir. Tjatur Sapto Edy, M.T.
Penghargaan akan digelar pada tanggal 21 Februari mendatang di Ramayana Room Patra Convention Hotel Jalan Sisingamangaraja Semarang, mulai pukul 19.30 WIB.
Malam penganugerahan akan dibuka oleh Ketua Umum Kadin Jateng/CEO Suara Merdeka Network Kukrit Suryo Wicaksono. Acara ini akan diisi orasi budaya dari budayawan Jateng, Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.Sc.
( IBALH )

19 Februari 2014

Cahyadi Takariawan, Calon Anggota DPD RI Yang Menginspirasi


Namaku Cahyadi Takariawan, namun ejaan di akte lahirku Tjahyadi Takariawan. Teman-teman memanggilku Pak Cah, bahkan ada yang memanggil Ustadz Pak Cah. Aku lahir hari Sabtu Pahing 11 Desember 1965, di desa Salam, kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bapakku bernama Soebandi –almarhum, seorang PNS di lingkungan pendidikan. Ibuku bernama Wuryastini, pensiunan PNS juga di lingkungan pendidikan. Aku anak ke 5 dari 7 bersaudara.
Kakekku -dari jalur bapak- bernama (alm) Prawirodikromo, seorang perangkat desa. Kakek -dari jalur ibu- bergelar Raden Rangga Baskara (alm), seorang abdi dalem kraton Solo.
Aku sekolah serba negeri. Tidak melalui TK, langsung masuk SD Negeri Salam I, lanjut ke SMP Negeri Karanganyar I, lanjut ke SMA Negeri Karanganyar I. Aku menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM, kemudian meneruskan Pendidikan Profesi Apoteker di UGM. Orang bilang, gelarku S.Si., Apt.
Aku mengenyam pendidikan agama dengan banyak cara. Pernah menjadi “santri kalong” di Pesantren Mahasiswa Budi Mulia Yogyakarta, pernah menjadi “santri kalong” di Pondok Pesantren Sabilul Khairat, kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dan mengaji “sorogan” langsung kepada para ustadz dan kyai di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Semasa kuliah, aku berusaha banyak belajar. Makanya saat aktif di HMI, aku mengikuti jenjang pengkaderan dari Basic Training, Intermediate Training sampai Senior Course. Dengan bekal itu aku bisa masuk sebagai Korps Pengkader HMI Cabang Yogyakarta. Di Gelanggang Mahasiswa UGM, aku juga mengikuti beraneka ragam training pengkaderan Jama’ah Shalahuddin UGM, yang dulu dikenal dengan Fosil (Forum Silaturahmi), dan akhirnya ditunjuk menjadi Ketua Korp Pembina Jama’ah Shalahuddin UGM (KPJS).
Aku pernah mengikuti beberapa Pendidikan Kepemimpinan, di antaranya Pendidikan Kepemimpinan Nasional tahun 2008, dan Program Pendidikan Reguler Angkatan 45 (PPRA – XLV) Lemhannas RI tahun 2010.  Berbagai training dan pelatihan singkat sering aku ikuti sejak masih kuliah sampai sekarang.
Aku dulunya agak aktif di beberapa organisasi, misalnya pernah membantu aktivitas Senat Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, pernah menjadi ketua –bahkan pendiri– Keluarga Mahasiswa Muslim Fakultas Farmasi UGM, aktif di HMI MPO Cabang Yogyakarta, aktif di UKKI Jama’ah Shalahuddin UGM, dan juga Keluarga Alumni Jama’ah Shalahuddin UGM.
Aku seorang bapak rumah tangga. Selain itu aktivitasku saat ini, antara lain Trainer dan Konselor Senior di Jogja Family Center (JFC), Ketua Dewan Pembina YP2SU, Staf Ahli Pusat Psikologi Terapan Metamorfosa, Penulis, dan Senior Editor PT Era Adicitra Intermedia. Aku juga menjadi anggota IKAL XLV (Ikatan Alumni Lemhannas RI angkatan 45).
Isteriku bernama Ida Nur Laila. Anakku berjumlah 6, yang tiga lelaki dan tiga perempuan.
Buku yang aku tulis, dan sudah terbit, mungkin sekitar empat puluh judul, di antaranya : Yang Tegar di Jalan Dakwah, Pernik-pernik Rumah Tangga Islami, Fikih Politik Perempuan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah, Izinkan Aku Meminangmu, Agar Cinta Menghiasi Rumah Tangga Kita, Rekayasa Masa Depan Dakwah, Dialog Peradaban: Islam Menggugat Materialisme, Kitab Tazkiyah, Media Massa Virus Peradaban, Menjadi Pasangan Paling Berbahagia, Panduan Ibadah Ramadhan, Wonderful Family: Merajut Keindahan Keluarga,  …dan lain-lain……
Aku menghabiskan waktu hidupku di jalan, namanya jalan dakwah. Mungkin orang menyebut, itu namanya hobi traveling. Tapi bukan hanya traveling, karena aku juga suka kuliner lho… Aku berjalan di sepanjang pulau Jawa, pulau Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bali, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papua. Aku berjalan juga ke beberapa negara. Masih banyak tempat ingin aku kunjungi. Di sepanjang perjalanan itulah, aku ketemu banyak teman, ketemu banyak saudara, ketemu banyak wacana, ketemu banyak peristiwa…..
Profesiku sebagai penulis buku, membuat aku mengenal banyak sisi dunia. Sering diundang bedah buku dan seminar di banyak tempat, dari sabang sampai merauke, sampai ke manca negara. Berbagai negara pernah aku kunjungi, semua dengan agenda seminar dan bedah buku.
Soal kuliner, seleraku sih lokal banget. Kalau ke Solo, makannya nasi kare, sambel tumpang, nasi brongkos, bebek goreng pak slamet… Kalau di Jogja, gudeg pawon jam setengah dua belas malam, atau sate klatak mas pong, kadang wedangan teh panas di angkringan pojok stasiun tugu. Kalau opor ayam, paling enak tuh masakan istriku sendiri, gak da yang nandingi. Naaa kalau di Makassar tuh, sulit untuk pulang. Banyak “undangan” kuliner yang harus dipenuhi. Coto Makassar Dg Sirua, wuah… Konro, sip… Palubassa Serigala, harus tambah…. Ulujuku, wajib 3 porsi….. Belum cukup, di Makassar harus menyempatkan mencicipi cha kangkung, otak-otak ikan, dan barongko pisang. Kalau di Palu, sukanya sop Kaledo yang dimakan dengan singkong. Ini juga perlu dua porsi….
Di Kendari, suka dimasakin Sinonggi atau Kapurung (orang Papua bilang: papeda) oleh istrinya pak Musadar, wakil walikota Kendari. Di Aceh, gak lupa menikmati kopi Ulee Kareng, malamnya di bakmi razali. Di Manado, paginya sarapan nasi kuning Seroja, siang bebas, malamnya ikan masak woku balanga di Malalayang. Di Gorontalo, suka dimasakin binte biluhuta oleh para umahat…. Di Mataram, senang sekali diundang jamuan makan malam di rumah Tuan Guru Muharrar, menunya wajib : pelecing kangkung plus kerupuk kulit. Ke wilayah Jawa Timur, harus mampir pecel madiun. Ke Tegal, sate tegal-nya pakai hotplate, jadi menu makan siang dan malam…. Di Padang, menu masakan padang di rumah dinas wakil walikota, ustadz Mahyeldi, sungguh menggugah selera… (Kolesterol semua ya…..?)
Ketahuan, cerita terbanyak soal kuliner…… Cerita yang lain menyusul….

18 Februari 2014

Presiden PKS: Kita Sudah Pimpin 25% Penduduk Indonesia


Jakarta : Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengklaim menguasai 60 juta penduduk Indonesia. Klaim itu menjadi pemicu tersendiri untuk memperoleh suara terbanyak pada Pemilu Legislatif dan memenangkan capres yang akan diusungnya nanti.

"Lebih dari 10 persen kepala daerah adalah kader PKS. Kalau dikumpulkan penduduk dari 4 kader kita 60 juta, lebih dari Malaysia dan Maroko. Kalau ada alasan menang Pileg nanti, karena kita sudah mimpin 25 persen penduduk Indonesia saat ini," kata Presiden PKS Anis Matta di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin (17/2/2014).

Menurut Anis, 3 dari 4 gubernur dari PKS menang setelah menghadapi 'badai'. Yang terakhir, PKS memenangkan posisi Gubernur Maluku Utara. "Ini jadi tanda, semakin kuat kita dalam tekanan, semakin kuat lompatan kita," katanya.

Total kepala daerah seluruh Indonesia yang berasal dari kader resmi PKS berjumlah 30 orang. Hal itu membantu pula untuk mendongkrak elektabilitas. "Hasil survei internal kita, kita di posisi 5 besar pada 5,1 persen," imbuhnya.

"Saya kira dalam suasana keyakinan pada Allah SWT dan keyakinan pada diri kita, kita juga putuskan untuk coba dalam pilpres mendatang. Badai tahun lalu tak akan menghalangi kita. Semoga Allah memberi kita jalan," papar Anis. (Liputan6.com)

17 Februari 2014

Hindari Kecelakaan Lalu Lintas, Jalur Protokol Dibersihkan


BOYOLALI – Imbas letusan Gunung Kelud hingga Sabtu (15/2/2014), masih menyisakan abu vulkanik dan debu di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Boyolali. Aksi bersih-bersih bersama pun dilakukan tim gabungan dari berbagai unsur, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, tim SAR, Kodim 0724/Boyolali, dan Polres setempat.

Kegiatan itu dimulai dari jantung kota Boyolali, yakni di kawasan Tugu Jam atau depan Pasar Kota Boyolali, hingga depan Makodim Boyolali. BPBD mengerahkan mobil pemadam kebakaran (damkar) untuk menyemprotkan air agar bisa mengurangi debu yang beterbangan di kawasan tersebut. Lantaran keterbatasan kapasitas mobil damkar, petugas terpaksa harus bolak-balik mengambil air ke kantor BPBD setempat selama kegiatan bersih-bersih tersebut berlangsung. Agar arus lalu lintas tidak terhambat, petugas dari Satlantas Boyolali pun diterjunkan untuk mengatur laju kendaraan yang melintasi kawasan itu.

Kepala BPBD Boyolali, Suyitno, mengemukakan bersih-bersih bersama itu dimaksudkan untuk mengurangi abu vulkanis yang diakibatkan letusan Gunung Kelud. Pihaknya menyediakan mobil damkar untuk mendukung kegiatan itu, khususnya untuk menyemprot jalan yang masih dipenuhi abu dan debu.

Kapolres Boyolali, AKBP Budi Haryanto, melalui Kabag Ops Polres Boyolali, Kompol I Wayan Sudita menambahkan bersih-bersih tersebut dilakukan terutama di perempatan-perempatan atau pertigaan di jalur protokol di Kabupaten Boyolali, untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Dengan hujan abu ini berdampak terhadap kondisi jalan, menjadi licin dan rawan. Ini juga langkah antisipasi untuk menghindari kecelakaan lalu lintas,” ujar Sudita.

Komandan Kodim (Dandim) 0724/Boyolali, Letkol Kav. Topri Daeng Ballaw, mengatakan pihaknya menyiagakan 60 personel atau dua Satuan Setingkat Pleton (SST). Selain itu, di setiap koramil di seluruh wilayah Boyolali diinstuksikan untuk bahu-membahu dengan jajaran Muspika lainnya di kecamatan masing-masing, serta masyarakat untuk membersihkan abu dari letusan Gunung Kelud tersebut.

”Sudah kami intruksikan kepada semua anggota agar bersiaga membantu mengurangi dampak hujan abu vulkanik dari gunung Kelud ini. Kami siagakan personel sebanyak 2 SST untuk berjaga selama 24 jam penuh. Personel di Koramil juga kami siagakan,” ungkap Dandim.

Menurut Dandim, personel ini untuk membantu aparat pemerintah maupun kepolisian untuk membantu keamanan dan lalu lintas. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati menyikapi dampak abu vulkanik ini. Seperti saat keluar rumah, agar selalu mengenakan masker. Selain itu, pihaknya juga bakal menggelar karya bakti dan gotong royong bersama masyarakat untuk membersihkan debu vulkanik ini.

Terpisah, Kasatlantas Polres Boyolali, AKP Alil Rinenggo, menyatakan imbauan supaya pengendara waspada di jalan. Selain kondisi jalan licin akibat tertutup debu vulkanik, juga jarak pandang sangat terbatas. Meski demikian sampai saat ini belum ada laporan kecelakaan akibat abu vulkanik.
 

Pemilu Kian Dekat, PKS Jateng Kencangkan Sabuk untuk Menang di TPS


Semarang - 49 hari jelang Pemilihan Umum (Pemilu), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah semakin memantapkan langkah mencapai target tiga besar Jawa Tengah. Yang teranyar, para saksi PKS se-Jateng dikumpulkan untuk mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) saksi Pemilu, Ahad (17/2/2014) di Merapi Hall, Hotel Grasia, Semarang. 

Berbekal semangat obah kabeh mundhak akeh, ratusan saksi tersebut mengaku siap memenangkan PKS dan mengawal suara partai berlambang bulan sabit kembar dan padi tersebut hingga proses akhir. 

“Pengalaman pemilu sebelumnya terjadi penggelembungan suara dan suara yang hilang. Untuk itu perlu ada pengawalan suara dari tingkat desa hingga tingkat provinsi. “ terang Hadi Santoso, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) dihadapan para saksi PKS se-Jateng. 

“Para saksi ini diharapkan benar-benar menguasai dan mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan haknya sebagai saksi. Termasuk ketika saksi dihadapkan pada sengketa. ”kata Hadi yang juga anggota DPRD Provinsi ini. 

Selain dukungan saksi PKS yang tersebar di 35 kabupaten/kota se-jateng, satuan tugas PKS Jateng mengaku siap mengamankan jalannya pemilu, di semua area TPS, baik TPS kategori aman maupun rawan. 

"Kami akan adakan tim yang siap siaga memantau dan mengawal pemilu bebas kecurangan," kata Amir Darmanto, Ketua Badan Kepemudaan dan Olahraga (BKO) PKS Jateng. 

( Ped/IBALH )
Sumber: pksjateng.or.id

15 Februari 2014

Dadang Kurnia, Tukang Sayur Yang Siap Ubah Wajah Negeri



VIVAnews - Merasa mengerti dengan persoalan masyarakat kecil, seorang penjual sayur keliling di Boyolali, Jawa Tengah, nekat maju sebagai calon anggota DPRD Boyolali.

Tukang sayur itu bernama Dadang Kurnia. Dia tinggal di Desa Sukorejo, Musuk. Dadang maju dari Partai Keadilan Sejahtera untuk daerah pemilihan 5 yang meliputi, Kecamatan Musuk, Cepogo, dan Selo. Nomor urut 5.

Dadang sudah lebih dari 12 tahun jualan sayur keliling. Dia biasa menjajakan dagangannya di daerah Lereng Gunung Merapi.

Untuk mengarungi kerasnya pertarungan politik pemilu 2014, pria kelahiran Blitar 1974 ini mengaku tidak punya modal besar. Hanya punya uang untuk membuat stiker dan poster secukupnya. Tidak ada baliho ataupun spanduk ukuran jumbo.

Pekerjaannya yang menuntutnya berkeliling, jadi sarana tepat untuk sosialisasi diri. Stiker itu dia bagikan kepada para pelanggan dan orang yang dikenalnya. Poster dia pasang di tempat-tempat saudaranya.

"Saya mengerti jelas persoalan-persoalan masyarakat kecil seperti warga tidak mampu, para pedagang keliling dan para petani di Lereng Gunung Merapi," kata Dadang memberi alasan maju jadi caleg.

Penghasilan sudah pasti tidak besar. Tapi banyaknya dukungan, menjadi motivasi untuk berjuang agar bisa lolos ke lembaga dewan. Dadang punya keyakinan bisa mengubah wajah negeri jika bisa duduk sebagai wakil rakyat.

"Jika terpilih, saya akan terus ke bawah menemui masyarakat dan seminggu sekali akan tetap berjualan," katanya. (eh/viva.co.id)

Masker di Toko Ludes Gara-gara PKS



SEMARANG - Semangat untuk menterjemahkan slogan apapun yang terjadi kami tetap melayani (AYTKTM) oleh para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah nampaknya bukan sekedar isapan jempol kaki semata.
Hal itu terlihat dari banyaknya para kader PKS yang rela “menembus badai” dan “debu – debu yang berterbangan” yang menghalangi pandangan mata akibat dampak abu vulkanik letusan gunung kelud, Jumat (14/2/2014).
Dengan berbekal masker yang dibeli dan diborong dari toko masker di daerah terdampak abu vulkanik Kelud di seputaran Solo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Klaten, Salatiga, hingga Kabupaten Magelang, para kader mulai berdiri didepan ruas jalan utama seperti di jalan Slamet Riyadi, Solo, atau di depan perbatasan gerbang Sukoharjo Makmur, atau terlihat di beberapa tempat di Salatiga, Magelang, hingga kabupaten Semarang.
Hari itu, Jumat (14/2/2014) para kader PKS yang memakai baju kepanduan bertuliskan bersiap siagalah, ataupun bertuliskan santika berhasil mengalahkan para pengamen atau pengemis yang biasanya mangkal di ruas jalan utama tersebut. Jika biasanya para pengamen Nampak hilir mudik mengais recehan disela – sela kendaraan yang berhenti dibelakang lampu merah, kali ini “pengamen” dari PKS juga Nampak hilir mudik, memberikan masker gratisan kepada pengguna jalan.
Bukan apa – apa, tapi yang terbenak dipikiran kader PKS tersebut adalah agar pengguna jalan bisa menikmati perjalanan diantara abu – abu yang beterbangan dengan nyaman. Sebab diketahui abu vulkanik erupsi kelud diindikasi sangat berbahaya , sehingga para kader PKS tersebut mau tak mau harus memberikan pelayanan kepada para pengguna jalan terdampak abu vulkanik tersebut.
“Setiap DPD (PKS) yang wilayahnya terkena dampak abu vulkanik sudah langsung merespon dengan membagikan masker, baik di jalan – jalan utama maupun di beberapa fasilitas publik lainnya, seperti pasar dan juga perkampungan warga,” kata Solikin Abu Dzaki, Sekretaris Bidang Kepanduan dan Olahraga (BKO) DPW PKS Jateng, Jumat (15/2/2014), dalam wawancara khusus dengan redaksi PKS Jateng Online.
Tercatat, dari pantauan PKS Jateng Online, sekitar 53 ribu masker terbagikan kepada warga yang melintas dijalan maupun di perkampungan warga, sehingga bisa disimpulkan pembagian masker ini sekaligus menguras habis persediaan masker di toko – toko dan supermarket.
“Di Wonogiri kita membagi total 15 ribu masker, Karanganyar 20 ribu, Solo 10 ribu, Salatiga 500 masker, Sukoharjo 2500 masker, Magelang 500 masker, Klaten 500 masker dan di Kabupaten Semarang kita membagikan 300 masker,” kata pria yang juga kepala Satgas PKS jateng ini.
Maka tak heran dengan pemborongan masker besar – besaran oleh PKS Jateng ini, jumat kemarin di beberapa toko yang menyediakan masker sulit ditemui. Karena masker sudah diborong para kader PKS untuk dibagikan di jalan – jalan utama yang terdampak abu vulkanik kelud. Masker itu dibagikan oleh para kader PKS yang rata – rata berjanggut tipis bagi yang pria dan berjilbab bagi yang wanita.
Seperti diketahui, selain menyemburkan lahar panas, letusan gunung Kelud juga menyebabkan hujan abu vulkanik yang menebar hingga radius ratusan kilometer. Bisa dipastikan, daerah – daerah seperti di Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Pacitan, Solo, hingga Yogyakarta terdampak hujan abu vulkanik tersebut.
Haduh, kasihan penjual masker di Jateng, terpaksa harus kulak lagi nih.

Sumber: pksjateng.or.id

14 Februari 2014

Ketua DPD PKS Boyolali Pimpin Langsung Pembagian Masker Gratis


Relawan PKS Boyolali Bagikan Masker Pada Pengguna Jalan

Boyolali (14/2) - Erupsi Gunung Kelud telah terjadi sejak Kamis, 13 Februari 2014, pukul 22.59 WIB. telah berdampak luas. Letusan  yang diwarnai semburan lava pijar serta lontaran abu dan kerikil ini mengakibatkan separuh pulau jawa mengalami hujan abu. Tak terkecuali di wilyah kabupaten Boyolali. Hujan abu tebal merata hampir di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap musibah ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Boyolali dengan sigap melalui kader dan simpatisannya membagikan masker secara gratis bagi warga boyolali. Dipimpin langsung oleh Ketua DPD PKS Boyolali, Syaifudin, para relawan PKS ini membagikan masker di 3 titik di wilayah Boyolali, yaitu di Perempatan Seiko, Sekitar Pasar Boyolali, Perempatan terminal Boyolali.
Menurut Ketua DPD PKS Boyolali, Syaifudin, aksi ini merupakan bentuk respon cepat dari para kader PKS melihat adanya dampak bencana gunung kelud yang menyebabkan hujan abu di daerah boyolali.
"Aksi ini merupakan bentuk kepedulian kami dan sebagai perwujudan sikap kami yang selalu dekat dan melayani." Tandas Syaifudin yang juga merupakan Caleg DPRD Boyolali nomer urut 1 dari dapil 1 Boyolali ini.
Syaifudin menambahkan dengan pembagian masker ini, diharapkan dampak buruk akibat abu vulkanik Gunung Kelud bagi kesehatan selama beraktivitas di luar rumah dapat dikurangi.
Aksi pembagian masker ini sendiri dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan berakhir jelang sholat Jumat sekitar pukul 11.30 WIB. Masyarakat tampak antusias menerima masker ini dan langsung memakainya. Dalam waktu singkat, lebih dari 2 ribu masker terbagikan kepada masyarakat Boyolali.

PKS Rajai Media Online


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meraih dukungan dengan persentase tertinggi pada polling media Online Republika Online dan situs BeritaSatu.com. PKS mengungguli seluruh partai lainnya pada polling di kedua online tersebut.

Hingga berita ini ditulis, di situs BeritaSatu.com, PKS meraih 58,3% dukungan meninggalkan Golkar, PDIP dan Demokrat. Sementara di situs berita Republika Online, PKS juga meraih persentase terbanyak, yaitu 39.22%, jauh meninggalkan PDIP, Golkar dan Nasdem.

Di situs BeritaSatu.com, salah satu bakal Capres dari PKS, Ahmad Heriyawan juga unggul dalam Polling Capres di Beritasatu.com.


*Sumber:
http://www.beritasatu.com/pages/polling/poll.php?pollid=83
http://www.republika.co.id/page/poll/52d66e047bfb8b6424000000

10 Februari 2014

51,26% Warga Boyolali Tak Punya Akta Kelahiran


BOYOLALI — Lebih dari setengah dari jumlah total warga Boyolali ternyata tak memiliki akta kelahiran.
Dari data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Boyolali, jumlah warga yang tidak memiliki akta kelahiran mencapai 533.122 orang atau 51,26% dari total jumlah warga Boyolali yang mencapai 1.094.021 jiwa.
Sekretaris Disdukcapil Boyolali, Wuryanti, menyampaikan kebanyakan warga yang tidak memiliki akta kelahiran adalah masyarakat kalangan dewasa hingga tua.
“Ya, kebanyakan orang-orang tua dan dewasa yang tidak punya akta kelahiran. Hal ini terjadi karena dulu akta kelahiran ini belum banyak dipakai. Kalau saat ini akta kelahiran sangat penting, khususnya untuk pendidikan anak,” kata Wuryanti di ruang kerjanya, Rabu (5/2/2014).
Dia mengatakan, saat ini orang tua bayi yang baru lahir sudah langsung mengurus administrasi pembuatan akta kelahiran anaknya. “Tetapi kalau untuk orang tua, seringnya berpendapat buat apa bikin akta kelahiran? toh sudah tidak dipakai.”
Kendati demikian, pihaknya akan terus mengupayakan agar jumlah warga yang memiliki akta kelahiran ini bisa meningkat.
Dia juga menyebutkan setiap bulan, warga yang mengajukan permohonan pembuatan akta kelahiran rata-rata mencapai 2.000-an orang. Sehingga selama 2013, Disdukcapil mencetak 22.259 akta kelahiran.
Menurut Wuryanti, untuk membuat akta kelahiran, masyarakat tidak pernah dipungut biaya selama dilakukan sesaat setelah bayi itu lahir. Jika usia anak sudah lebih dari enam bulan dan baru dibuatkan akta kelahiran, pemohon akan terkena denda sesuai Peraturan Daerah (Perda) No. 4/2011 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk).
“Kalau UU Adminduk yang baru diterapkan, nanti Perda ini akan menyesuaikan sehingga pembuatan akta kelahiran akan dibebaskan dari biaya termasuk denda keterlambatan,” imbuh Wuryanti.
Warga Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Ngadimin, 60, mengakui hingga saat ini pihaknya tidak pernah memiliki akta kelahiran. “Dulu adanya hanya surat kelahiran dari desa. Saat ini pun saya enggan bikin akte. Buat apa toh sudah tidak digunakan lagi,” ujar Ngadimin.

Sumber: solopos.com