Rabu, 17 Desember 2014

Dolar Naik, Perajin Tahu Boyolali Kelimpungan

Salah seorang karyawan sedang mencetak tahu di Salah satu perusahaan pembuat tahu di Kampung Kanoman, Desa Gagak Sipat, Selasa (16/12/2014). (Irsyam Faiz/JIBI/Solopos)
Salah seorang karyawan sedang mencetak tahu di Salah satu perusahaan pembuat tahu di Kampung Kanoman, Desa Gagak Sipat, Selasa (16/12/2014). (Irsyam Faiz/JIBI/Solopos)
BOYOLALI – Kurs rupiah hingga Selasa (16/12/2014) terus tertekan. Kurs rupiah terhadap dolar AS menembus Rp12.500. Perajin tahu di Dukuh Kanoman, Desa Gagak Sipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, mengaku resah dengan naiknya harga dolar. Kenaikan tersebut memicu harga bahan baku yakni kedelai yang terus merangkak naik.

Ketua Paguyuban Pengrajin Tahu Kanoman, Haryadi, mengatakan dalam beberapa hari terakhir ini, harga kedelai terus merangkak naik.

“Jelas itu [kenaikan harga dolar] sangat mempengaruhi aktivitas produksi kami, karena kami kan pakai kedelai impor, padahal harga kedelai impor sangat dipengaruhi oleh harga Dollar,” kata dia saat ditemui di rumahnya di Desa Gagak Sipat, Ngemplak, Selasa (16/12/2014).

Menurut dia, kenaikan dolar dan melemahnya rupiah ini akan menaikan ongkos produksi. “Tentu ongkos produksi akan naik, sebagian besar ongkos produksi untuk biaya pembelian bahan baku,” kata dia.

Sebenarnya, tambah dia, jika pemerintah menyediakan swasembada kedelai, dolar yang melambung ini tidak akan memengaruhi produksi tahu.

“Kalau saya boleh jujur saya lebih enak zaman Orde Baru, untuk harga-harga seperti ini, dulu pemerintah yang berbuat, cukong-cukong gak bisa bermain, kalau kalau sekarang kan harga dikasihkan ke pasar, jadi yang sekarang yang kaya bos-bos besar, sedangkan untuk usaha kecil jatuh,” ungkap dia.

Menghadapi keadaan ini, Haryadi, yang juga pengrajin tahu itu tidak bisa berbuat banyak, untuk menutupi naiknya ongkos produksi tersebut, pihaknya belum bisa menaikkan harga tahu di pasaran.
“Untuk harga jual tahu saja tidak bisa secepat itu [naiknya bahan baku], sekarang harga jual tahu antara Rp300- Rp500 per biji dengan ukuran 7 sentimeter (cm).apalagi untuk konsumsi menengah ke bawah kita menaikkan akan sulit,” kata dia.

Perajin lain, Budi Amiarso, mengaku masih punya stok bahan baku untuk satu pekan ke depan, sehingga dia belum merasakan efek dari kenaikan dolar ini.
“Saya masih punya stok bahan baku, jadi berlum merasakan dampaknya, kita lihat saja nanti sampai satu pekan ke depan,” ujar dia.
Salah seorang pedagang kedelai di Desa Gagak Sipat, Agus, mengatakan harga kedelai dalam beberapa hari terakhir memang sedang merangkak naik. Saat ini harga kedelai untuk kelas A mencapai Rp8.250 per kilogram (kg) lebih tinggi Rp150 dari harga sebelumnya yakni Rp8.100.
Untuk harga kedelai kelas B dari harga Rp7.950 per kg naik menjadi Rp8.100 per kg. “Saya prediksi harga kedelai akan terus naik, tetapi secara bertahap tidak sekaligus,” ungkap dia.

Sumber: Solopos.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template |
Copyright © 2011. DPD PKS Boyolali - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger