14 Juli 2015

PKS dan 'Kampanye' yang Selalu Gagal


by Akmal-Sjafril

Di tengah hegemoni pemikiran sekuler masa kini, memang sangat sulit mengubah paradigma dualis masyarakat tentang politik. Di satu sisi, orang terlanjur ngotot mempertahankan stigma bahwa politik itu kotor, namun di sisi lain, diam-diam masyarakat mengharapkan juga kehadiran politik bersih, karena dengan politik itulah mereka mengharapkan solusi.

Membawa-bawa agama ke dalam politik juga serba salah. Agama itu suci, politik itu (pokoknya) kotor. Kalau keduanya dihubungkan, maka satu-satunya kemungkinan yang muncul dalam benak orang adalah agama itu terkotori oleh politik. Anehnya, masih sedikit yang mempertimbangkan kemungkinan sebaliknya, yaitu politik yang ‘disucikan’ oleh agama. Dalam pandangan banyak orang, seeolah-olah hal yang terakhir ini tak mungkin terjadi.

Perdebatan soal politik dan Islam sudah terlalu panjang untuk diceritakan ulang. Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno sudah membela paham sekuler yang dirujuknya dari buku karya ‘Ali ‘Abdurraziq, dan sudah didebat habis oleh Natsir. Di jaman Orde Baru, Nurcholish Madjid kembali menggali pemikiran ‘Ali ‘Abdurraziq dari karyanya yang persis sama, dan sudah didebat pula oleh Buya Hamka. Sampai hari ini, kita masih mendengar kaum sekuler menggaungkan nama ‘Ali ‘Abdurraziq dan karyanya yang itu-itu lagi.

Di bulan Ramadhan kali ini, seperti biasa, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak pernah menyebut dirinya sebagai partai sekuler disibukkan dengan kegiatan-kegiatan ‘abnormal’. Bagi mereka yang sudah terlanjur mengikuti cara berpikir ala sekuler, memang aneh jika melihat partai yang ‘terlalu serius’ mengurusi Ramadhan. Memang di negara yang mayoritas Muslim ini sudah lazim bagi semua partai atau organisasi (bahkan tokoh masyarakat) untuk memasang spanduk atau baliho ucapan selamat menunaikan ibadah puasa; tapi tidak lebih dari itu! Bagi PKS, nampaknya urusannya sedikit lebih rumit.

Di tingkat kepengurusan terendah di kelurahan-kelurahan, umumnya kader-kader PKS sibuk menyambut Ramadhan dengan bazaar murah dan pemberian santunan. Di kelurahan saya sendiri, ada pemberian santunan kepada anak yatim, bazar murah dan penjualan paket sembako dengan harga miring, bahkan jungkir balik. Barang-barang yang dijual di bazar murah adalah barang bekas layak pakai yang berasal dari milik pribadi kader-kader PKS sendiri. Barang-barang itu dikumpulkan dan kemudian dijual dengan harga beragam, mulai dari dua ribu rupiah hingga dua puluh ribu rupiah. Kader-kader PKS juga mengumpulkan dana untuk penjualan paket sembako murah; paket yang dibeli dengan harga dua puluh lima ribu rupiah dijual kembali dengan harga lima belas ribu rupiah.

Sudah barang tentu, kegiatan semacam ini diserbu oleh masyarakat. Bazaar yang disiapkan hingga Zhuhur umumnya selesai pukul sebelas siang, karena cepat sekali ludes. Keuntungan dari bazar murah digunakan untuk melunasi biaya tekor pembelian sembako. Kalau tidak rugi, maka itu sudah untung banget! Tentu saja, tidak ada keuntungan finansial yang bisa diharapkan dari kegiatan semacam ini.

Di tingkat kecamatan atau kota, biasanya PKS memiliki panitia ansyithah Ramadhan yang bertugas meramaikan Ramadhan, mulai dari menggelar kajian hingga mengadakan acara i’tikaf bareng. Di DPP PKS sendiri Ramadhan disemarakkan dengan ifthar bersama, sedangkan kajian Haditsul Khamis yang rutin dilakukan pekanan ditambah lagi dengan Haditsul Itsnain.

Di dunia maya, kader-kader PKS juga disibukkan dengan hal-hal tak lazim lainnya. Setiap hari, kader-kader PKS yang tergabung dalam PKS Art Designer Community (http://art.pks.id) memproduksi gambar-gambar menarik yang berfungsi layaknya iklan layanan masyarakat. Publikasi-publikasi berupa gambar itu memperlihatkan berbagai hal, mulai dari hadits-hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan shaum, doa berbuka, tuntunan ibadah seperti tarawih, zakat dan semacamnya, hingga pesan-pesan pembangkit motivasi dalam mengejar lailatul qadar. Semua hal ini, lazimnya, tidak dianggap sebagai domain kerja dari sebuah partai politik.

Pangkal permasalahannya, barangkali, karena PKS memang sejak awal sudah menyebut dirinya sebagai partai dakwah, bahkan kader-kadernya pun telinga dan hatinya lebih familiar dengan sebutan ‘kader dakwah’ ketimbang ‘kader partai’. Hakikatnya, mereka ingin berdakwah secara maksimal lewat partai, selain juga lewat berbagai jalan lainnya, meskipun dakwah di ‘jalur partai’ itu masih dipandang ganjil oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pandangan semacam ini sudah dicanangkan sejak era Partai Keadilan (PK) dan terus dipertahankan hingga sekarang. Meskipun ada pihak-pihak yang sempat menghebohkan isu tentang ‘PKS partai terbuka’, namun di lapangan, PKS adalah PKS; partai yang terus-menerus melakukan hal-hal abnormal menurut standar kelaziman yang masih berlaku di dunia politik tanah air.

Sikap keras kepala PKS ini, sudah barang tentu, menjadi obyek ejekan sebagian orang yang belum paham. Menurut mereka, PKS selalu ‘curi start’, baik di bulan Ramadhan, atau ketika kader-kadernya diterjunkan dalam penanganan bencana, atau ketika mengadakan aksi yang mengumpulkan puluhan ribu orang untuk membela Palestina, dan seterusnya. Semua hal ini dipandang sebagai bagian dari ‘kampanye terselubung’, atau singkatnya sebuah kecurangan.

Kepada mereka yang begitu resah dengan anomali PKS yang semacam ini, saya sering mengusulkan untuk bersikap santai saja. Sudah sejak dulu PKS tabiatnya seperti itu, dan kelihatannya tidak akan berubah dalam waktu dekat. Toh, dari dulu perolehan suaranya begitu-begitu saja. Meskipun selalu sigap menghadapi bencana, sering menyalurkan bantuan kepada masyarakat, toh PKS masih belum bisa menjadi pemenang pemilu, bahkan suaranya masih terpaut jauh dari posisi puncak. Dan meskipun masyarakat menikmati aksi-aksi sosial PKS, toh yang menang tetap saja para pemodal besar yang ‘menyimpan kekuatan’ selama lima tahun untuk digelontorkan habis-habisan di musim kampanye.

Jadi, tak usah khawatir dengan aksi-aksi PKS. Kalau pun mau dianggap kampanye, toh cara-cara semacam ini selalu gagal. Tapi justru itu, diam-diam ada juga kabar baik bagi kader-kader PKS, karena sekarang mereka bisa lebih mudah menjaga keikhlasannya dalam beramal. Buat apa beramal sambil mengharapkan perolehan suara? Maka, berharaplah balasan hanya dari Allah SWT!

Sumber: fb