17 Juni 2026

[NGOPI DARAT (Ngobrol Perihal Dunia Akhirat)]: "Hijrah dari Penonton Menjadi Pelaku Perubahan"

Oleh Badruzzaman

Ngopi pagi di tahun baru Hijriyah ini, tiba-tiba saya teringat bahwa kalender Islam tidak lahir dari sebuah kemenangan perang. Bukan pula dari peristiwa penaklukan sebuah negeri besar.

Kalender Islam justru lahir dari sebuah perjalanan.

Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah datang kepada mereka yang hanya menonton.

Perubahan selalu lahir dari orang-orang yang berani bergerak.

Dari orang-orang yang berani berhijrah.

Tahun Baru Hijriyah selalu mengingatkan kita pada sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam: hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.

Menariknya, penanggalan Hijriyah yang kita gunakan hari ini tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bukan pula dari turunnya wahyu pertama, ataupun kemenangan dalam berbagai peperangan. Atas inisiatif Umar bin Khattab r.a., awal kalender Islam ditetapkan dari peristiwa hijrah.

Tentu bukan tanpa alasan.

Hijrah dipilih karena ia merupakan simbol perubahan. Sebuah pelajaran bahwa seorang muslim tidak boleh menyerah pada keadaan. Ketika satu jalan tertutup, ia mencari jalan lain.

Ketika dakwah menghadapi hambatan, ia menyusun strategi baru. Ketika kemungkaran merajalela, ia berusaha menghadirkan kebaikan.

Rasulullah telah memberikan teladan yang luar biasa. Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, beliau menghadapi berbagai bentuk penolakan, intimidasi, penghinaan, pemboikotan, bahkan ancaman pembunuhan.

Namun beliau tidak pernah berhenti. Beliau terus bergerak, terus berikhtiar, dan terus mencari jalan perubahan.

Hingga akhirnya beliau harus meninggalkan tanah kelahirannya yang sangat beliau cintai.

Ada sebuah syair Arab yang sangat indah:

نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى

مَا الْحُبُّ إِلَّا لِلْحَبِيبِ الْأَوَّلِ

"Pindahkanlah hatimu ke mana saja engkau suka. Namun cinta yang paling dalam tetaplah kepada cinta yang pertama."

Syair ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan seseorang dengan tempat asalnya, kampung halamannya, tanah kelahirannya. Seseorang boleh saja berpindah ke tempat yang lebih maju, lebih makmur, lebih indah, atau lebih nyaman.

Namun sering kali ada kerinduan yang tidak tergantikan kepada tempat pertama yang menjadi saksi masa kecil, keluarga, dan perjalanan hidupnya.

Demikian pula Rasulullah ﷺ. Makkah bukan sekadar sebuah kota. Makkah adalah tanah kelahiran beliau, tempat tumbuh dan besarnya beliau, tempat kenangan hidup beliau bersama keluarga dan para sahabat.

Karena itu, ketika harus meninggalkan Makkah demi menjalankan perintah Allah dan menyelamatkan dakwah Islam, perpisahan itu bukanlah sesuatu yang ringan.

Hijrah Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar sering kali menuntut pengorbanan besar. Bahkan terkadang seseorang harus meninggalkan sesuatu yang sangat dicintainya demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih luas.

Yang menarik untuk kita renungkan hari ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak memilih menjadi penonton.

Mereka tidak hanya duduk mengeluhkan keadaan.

Mereka tidak sekadar membicarakan kerusakan masyarakat.

Mereka tidak hanya mengkritik sistem yang salah.

Mereka turun tangan menjadi bagian dari solusi.

Hijrah yang mereka lakukan bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perpindahan dari kejahiliyahan menuju peradaban, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kebodohan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari ketidakberdayaan menuju kebangkitan.

Karena itu, semangat hijrah sesungguhnya adalah semangat melakukan perubahan.

Jika kita melihat kondisi bangsa hari ini, tentu masih banyak persoalan yang perlu dibenahi.

Korupsi masih terjadi.

Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah.

Pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan.

Kerusakan lingkungan terus mengancam.

Pergaulan generasi muda juga menghadapi ujian yang tidak ringan.

Namun pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi penonton?

Mudah sekali menjadi komentator.

Mudah sekali menyalahkan keadaan.

Mudah sekali menunjuk pihak lain sebagai penyebab masalah.

Tetapi perubahan tidak pernah lahir dari komentar semata.

Perubahan lahir dari orang-orang yang bersedia mengambil peran.

Ada ungkapan yang sering kita dengar:

"Yang jahat menjadi leluasa bukan semata-mata karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik."

Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya, tetapi maknanya sangat relevan.

Banyak penyimpangan yang terjadi bukan hanya karena adanya pelaku keburukan, tetapi juga karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.

Karena itulah Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penonton.

Allah SWT berfirman:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi orang baik untuk dirinya sendiri. Ia juga harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Guru mengajar agar lahir generasi yang lebih baik.

Da.i berdakwah agar masyarakat semakin dekat kepada Allah.

Petani bekerja agar masyarakat memperoleh pangan. Pengusaha membuka usaha agar tercipta lapangan pekerjaan. Aktivis sosial bergerak agar persoalan masyarakat mendapat solusi. Masing-masing memiliki medan jihadnya sendiri.

Maka jangan pernah merasa kecil hanya karena kita tidak memiliki jabatan atau kekuasaan. Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari gedung-gedung besar atau panggung-panggung megah. Sering kali perubahan lahir dari ruang kelas yang sederhana, dari majelis taklim di kampung, dari kelompok tani, dari komunitas kecil, atau bahkan dari satu orang yang memutuskan untuk berbuat sesuatu.

Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Selama ini saya berada di posisi yang mana?

Menjadi penonton atau pelaku perubahan?

Menjadi pengeluh atau pencari solusi?

Menjadi pengkritik atau pemberi kontribusi?

Menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi?

Menjadi pengekor atau pelopor?

Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh mereka yang hanya berdiri di pinggir lapangan. Sejarah diubah oleh mereka yang bersedia turun ke medan perjuangan.

Rasulullah ﷺ dan para sahabat bukanlah penonton sejarah.

Mereka adalah pembuat sejarah.

Mereka bukan pengekor keadaan.

Mereka adalah pelopor perubahan.

Hijrah telah mengubah wajah Jazirah Arab. Dari masyarakat yang tenggelam dalam kejahiliyahan menjadi masyarakat yang dipimpin oleh cahaya wahyu. Dari suku-suku yang saling bermusuhan menjadi umat yang dipersaudarakan oleh iman.

Dan setiap perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai oleh orang-orang yang memilih menjadi pelopor, bukan pengekor.

Mungkin kita tidak mampu mengubah bangsa ini sekaligus.

Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan umat.

Tetapi setidaknya kita bisa memulai dari lingkungan terdekat.

Dari keluarga.

Dari sekolah.

Dari masjid.

Dari kelompok tani.

Dari komunitas.

Dari desa tempat kita tinggal.

Selamat Tahun Baru Hijriyah.

Saatnya berhenti hanya mengomentari keadaan.

Saatnya ikut mengambil bagian dalam perubahan.

Jangan menunggu semua orang bergerak.

Jangan menunggu keadaan menjadi ideal.

Jangan menunggu memiliki kekuasaan yang besar.

Sebab setiap perubahan besar selalu dimulai oleh orang-orang biasa yang mau melakukan sesuatu yang luar biasa.

Dan jangan bertanya apa yang sudah diberikan umat ini kepada kita.

Tanyakanlah, apa yang sudah kita berikan untuk umat ini. Karena kelak di hadapan Allah, yang akan ditanyakan bukanlah seberapa banyak masalah yang berhasil kita komentari, tetapi seberapa besar ikhtiar yang telah kita berikan untuk memperbaiki keadaan.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah keberanian berpindah dari diam menuju tindakan, dari keluhan menuju solusi, dari penonton menjadi pelaku perubahan, dan dari pengekor menjadi pelopor kebaikan.