Oleh Badruzzaman
Islam adalah agama yang ajarannya bersifat syumuliyah (menyeluruh) dan komprehensif. Karena itu, dakwah Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual semata, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, budaya, hingga politik.
Dalam pandangan Islam, seorang muslim tidak cukup hanya menjadi pribadi yang shalih (baik untuk dirinya sendiri). Lebih dari itu, ia dituntut menjadi mushlih, yaitu pribadi yang aktif melakukan perbaikan dan berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Islam mengajarkan bahwa kemaslahatan sosial tidak akan terwujud apabila umat hanya berdiam diri, bersikap pasif, dan enggan menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar akan mendatangkan akibat yang serius bagi kehidupan umat. Beliau bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, atau Allah hampir saja menurunkan azab kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak dikabulkan."
(HR. At-Tirmidzi)
Hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika kebaikan tidak lagi diperjuangkan dan kemungkaran dibiarkan tumbuh tanpa kendali, maka berbagai kerusakan sosial akan muncul. Kepemimpinan dapat jatuh ke tangan orang-orang yang tidak amanah, dan keberkahan kehidupan masyarakat pun akan berkurang.
Politik sebagai Sarana Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Dalam rangka mewujudkan dakwah yang lebih efektif, terarah, dan berdampak luas, aktivitas amar ma'ruf nahi munkar perlu dilakukan secara berjamaah, terorganisasi, dan memiliki tata kelola yang baik. Semangat inilah yang sejalan dengan firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(QS. Ash-Shaff: 4)
Ayat ini mengajarkan pentingnya kerja kolektif, disiplin organisasi, persatuan visi, dan kekuatan barisan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, salah satu wadah yang sah dan konstitusional untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat serta menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan umat adalah melalui partai politik. Oleh karena itu, aktivitas politik sejatinya dapat menjadi bagian dari ikhtiar dakwah apabila dijalankan dengan niat yang benar, cara yang benar, dan tujuan yang benar.
Pentingnya Etika dalam Berpartai
Partai politik bukan sekadar kendaraan untuk meraih kekuasaan. Lebih dari itu, ia adalah instrumen perjuangan yang harus dijalankan dengan akhlak, moral, dan etika yang luhur. Nilai-nilai tersebut bersumber dari Al-Qur'an, As-Sunnah, sirah para nabi dan sahabat, pemikiran para ulama, serta peraturan yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam sebuah kesempatan, K.H. Didin Hafifuddin menyampaikan beberapa prinsip penting yang perlu menjadi pedoman dalam membangun etika berpartai.
1. Meluruskan Niat dan Menguatkan Motivasi karena Allah
Setiap aktivitas perjuangan harus dilandasi keikhlasan dan orientasi ibadah kepada Allah SWT. Jabatan, kedudukan, maupun kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.
Allah SWT berfirman:
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."(QS. Al-Bayyinah: 5)
Demikian pula hadits yang sangat terkenal dari Umar bin Khattab رضي الله عنه:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya."(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Menguatkan Ta'liful Qulub, Ta'liful Fikrah, dan Ta'liful Harakah
Persatuan tidak cukup hanya pada tataran organisasi. Persatuan harus dibangun dalam hati, pemikiran, dan gerak langkah perjuangan.
Allah SWT berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai."(QS. Ali Imran: 103)
Kekuatan sebuah partai bukan hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi pada soliditas hati, kesamaan visi, dan kesatuan langkah para kadernya.
3. Membiasakan Musyawarah dalam Pengambilan Keputusan
Musyawarah merupakan tradisi yang diajarkan Islam dalam menyelesaikan persoalan dan menentukan kebijakan.
Allah SWT memuji orang-orang beriman yang:
"...urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."(QS. Asy-Syura: 38)
Dengan musyawarah, keputusan menjadi lebih bijaksana, partisipatif, dan dapat diterima oleh seluruh unsur organisasi.
4. Membudayakan Taushiyah dan Saling Menasihati
Perjuangan politik adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Karena itu, diperlukan budaya saling menasihati, saling mengingatkan, memperbanyak ibadah, memperkuat ukhuwah, meningkatkan pengorbanan, serta memperluas amal kebajikan.
Partai yang sehat adalah partai yang di dalamnya tumbuh tradisi nasihat yang tulus, bukan budaya saling menjatuhkan.
5. Menjauhi Perpecahan dan Penyakit Hati
Salah satu penyebab melemahnya perjuangan adalah munculnya konflik internal yang dipicu oleh hasad, dengki, ego pribadi, ambisi jabatan, saling menjegal, atau "menggunting dalam lipatan".
Allah SWT mengingatkan:
"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu."(QS. Al-Anfal: 46)
Begitu pula Allah melarang prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan perilaku yang merusak persaudaraan sebagaimana dalam (QS. Al-Hujurat: 12).
Penutup
Berpartai dalam perspektif Islam bukanlah sekadar aktivitas politik, melainkan bagian dari ikhtiar kolektif untuk menghadirkan kemaslahatan, memperjuangkan keadilan, dan menjalankan amanah amar ma'ruf nahi munkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, keberhasilan perjuangan tidak hanya ditentukan oleh strategi politik, kekuatan logistik, atau besarnya dukungan massa. Yang jauh lebih penting adalah terjaganya etika, akhlak, dan ruh perjuangan di dalamnya.
Apabila nilai-nilai keikhlasan, persatuan, musyawarah, saling menasihati, serta semangat menjaga ukhuwah terus dipelihara, maka partai akan menjadi bangunan yang kokoh (bunyanun marshush), kuat menghadapi berbagai tantangan, serta memperoleh pertolongan, kemenangan, dan keberkahan dari Allah SWT dalam menjalankan amanah dakwah melalui jalur politik dan parlemen.
Wallahu a'lam bish-shawab.






