22 Desember 2016

Engkaukah Ibu Terbaik Itu?


Oleh: Istrini Dwi Hastuti
         Staff BPKK DPD PKS Boyolali

Sebelumnya mari kita tengok sejenak arti kata Ibu dalam berbagai referensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi, Ibu adalah seseorang yang telah melahirkan seseorang atau sebutan untuk seorang wanita yang telah memiliki suami atau panggilan takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami ataupun belum.
Sedangkan secara terminologi ada beberapa arti kata ibu. Pertama, menurut Alex Sobur dalam bukunya “Anak Masa Depan” , ibu adalah orang pertama yang dikejar oleh anak; perhatian, pengharapan dan kasih sayangnya, sebab ia merupakan orang pertama yang dikenal oleh anak, ia menyusukannya dan ia mengganti pakaiannya. Kedua, Abu Al’aina Al Mardhiyah dalam bukunya “Apakah Anda Umi Shalihah?” bahwa ibu adalah status mulia yang pasti akan disandang oleh setiap wanita normal. Ibu merupakan tumpuan harapan penerus generasi, di atas pundaknya terletak suram dan cemerlangnya generasi yang akan lahir.

Kata ibu memiliki arti yang syarat dengan peran mulia yang harus di-ejawantahkan oleh setiap orang yang telah menyandangnya. Sehingga menjadi seorang ibu memang perlu belajar, bukan hanya seperti air yang mengalir atau ya sudah sesuai waktu saja jika datang masanya maka lakukan saja. Seperti ibu yang diartikan sebagai tumpuan harapan generasi penerusnya dan ikut menentukan suram dan cemerlangnya sebuah generasi. Dengan dua kalimat ini saja akan banyak kita urai apa sebenarnya yang harus dilakukan seorang ibu dalam menyiapkan masa depan Islam pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya.

Penyiapan itu tentunya berawal sejak anak itu ada dalam diri sang ibu, -bahkan penyiapan generasi terbaik dimulai dari pemilihan pasangan hidup-. Setelah dilahirkan dan menjadi anak, maka seorang anak belajar dari modelling apa yang dilihatnya, dan orang tua (ayah dan ibu) memikili peran sebagai model yang akan ditiru anak-anaknya. Namun jika memang orang tua mempercayakan pengasuhan anaknya kepada orang lain maka hendaknya diberikan kepada orang yang mampu menjadi model kebaikan dan tentunya orang tua tidak boleh kehilangan sosok model itu sendiri bagi anak. Perang modelling ini berlanjut sampai anak menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab.

Ibu adalah pentransfer kebaikan budi pekerti, pemikiran dan keagamaan yang terbukti handal. Menyebutkan peran ibu seolah menyadarkan diri sendiri, antara lain memberikan kasih sayang dan perhatian tidak hanya sebatas kepada anak namun kepada keluarga sehingga keluarga menjadi tempat paling nyaman untuk setiap anggotanya. Memiliki wawasan luas sehingga mampu memberikan benteng keilmuan bagi anak-anaknya dalam menghadapi kehidupannya kelak. Memberikan kesempatan bermain dengan permainan yang memuat unsur pendidikan moral dan spiritual. Memberikan bekal kepada anak untuk memiliki jiwa sosialisasi masyarakat yang baik. Menanamkan ghirah (semangat) dalam mendalami agama dan menjadikannya sebagai tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat kelak.

Peran-peran itu tidak akan mungkin didapat secara simsalabim dalam diri seorang ibu, maka ibu perlu menimbang kelebihan dan kekurangannya kemudian menjadikan apa yang ada dalam dirinya menjadi senjata untuk melakukan peran-perannya tersebut. Pantang menutup mata dengan keadaan generasi penerusnya kelak sehingga seorang ibu akan selalu mengasah kemampuan diri.

Lalu Sudah Baikkah Aku Untukmu, Ibu?

Tak terelakkan sudah kebaikanmu ibu
Setiap jerih dan payahmu membersamaiku
Ibu.. darah dan peluh keringatmu adalah saksi kesungguhanmu
Dalam melaksanakan amanah dari penciptaMu
Menjagaku dalam kebaikanmu sebagai jalan kebaikanNya
Untukku..

Begitulah mungkin yang bisa terungkap dari setiap anak atas karunia ibu yang telah menjaganya dengan kasih sayang tertinggi, pengorbanan terbesar dan penjagaan yang kuat. Belum hal lain yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata atau tak terbalas dengan tindakan. Kata pepatah “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”.
Cinta tanpa syarat seorang ibu yang dengan dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, memiliki pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan kerisauan. Air matanya adalah salah satu caranya menunjukkan kegembiraan, kerisauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan. Bahunya cukup kuat untuk menopang dunia namun cukup lembut untuk memberikan kenyamanan dan dia memiliki kekuatan untuk menyokong suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya. 

Kemudian meletakkan bakti kepada ibu setelah berbakti kepada Allah dan RasulNya, dan disebutkan dalam banyak ayat al-Quran bahwa jangan menyekutukan Allah lalu berbuat baiklah kepada Ayah dan Ibu. Begitu mulianya kasih sayang orang tua sehingga berbakti kepadanya akan membawa kebaikan untuk kita diantaranya merupakan amal yang paling utama setelah shalat 5 waktu dan jihad di jalan Allah, mendapatkan ridhoNya, menghilangkan kesulitan yang dialami, dan mendapat balasan jannahNya.

Jangan lupa bertanya kepada ibu dan sampaikan rasa terima kasih dengan kata-kata dan perilaku berbakti. Karena berbaktinya kita adalah bahagianya mereka, menghapus peluh pengorbanannya dan lelah keras usahanya untuk kita. Walaupun hanya sepanjang galah kata pepatah namun sepanjang hayat kita dedikasikan untuk ibu kita.