12 Oktober 2012

Sang Umara



by roni sewiko*

Sepanjang berkali-kali ke tempat ini, mungkin pengalaman malam kemarin akan jadi momen paling berkesan.

Tempat ini dulu rasanya sakral sekali. Hanya orang tertentu yang bisa masuk, para gegeden saja. Mereka berkunjung, berdiplomasi, atau sekedar pesta. Nuansa militeristik sangat kentara. Setiap perilaku tuan rumah rasanya ibarat instruksi.

Namun sejak ia datang, tempat ini sudah seperti balai umum. Setiap orang boleh masuk. Ekspatriat, Pejabat, Demonstran, Petani, Nelayan, Mahasiswa, Rakyat biasa, RT/RW, Kades, buruh dan masyarakat dari beragam elemen, status dan strata tak asing ada disini. Sebagian besar dari mereka pun selalu berkomentar serupa, "bungah, mimpi rasanya menginjakkan kaki di tempat ini."

Awal ia masuk ke tempat ini, yang berarti ia mulai menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, banyak orang meragukan. Setiap polling dan survey selalu menunjukkan antusiasme dan atensi rendah dari masyarakat padanya. Beragam komentar miring dari para tokoh parahyangan rajin beredar di media. Isinya sama. Mereka, tak merasakan dampak kepemimpinannya. Mereka, menuntut ia mundur.

Ironis, dan sangat miris.

Ia, yang tak dikenal. Kemudian mesti jadi pejabat publik, dan menghadapi badai kritik. Jika bukan orang yang menggantungkan diri pada Kasih Sayang Allah, sungguh akan gusar diri dipermainkan opini.

Namun ia bertahan. Bertahan dan terus Berkarya.Ia jawab semua dengan bukti, dengan Kerja. Dan ini yang unik. Justru saat segala upayanya perlahan menjawab kritik dan kekhawatiran itu, tak ada yang menyambungkabarkannya pada masyarakat. Segala kerja keras yang berbuah penghargaan nasional dan bahkan internasional itu, redup dari ekspos media massa.

Jika terbiasa datang ke tempat ini, dan berinteraksi dengan para staf akan terdengar keluh dan ekspresi nyaris sama. Mereka, pegawai kerumahtanggaan, penjaga, terlebih para pengawal merasa lelah bukan main. Mengapa demikian? rasanya tak perlu dijawab lugas disini. Cukup coba saja ikuti aktvitas orang satu ini seminggu penuh, dan selamat merasakan kelelahan luar biasa. Saya tak melebih-lebihkan. Jika para pengawalnya yang bergantian shift 3 harian saja bisa sangat kelelahan, apalagi kita yang tak terbiasa??

Ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan banyak orang di tempat ini, juga dari orang-orang yang mengenalnya, atau terbiasa berinteraksi dengannya. Darimana, darimana ia bisa mendapat energi untuk memenuhi semua aktivitas itu?

Banyak yang berkomentar. Obat, suplemen, kurma, madu, dan jawaban tebak-tebak lainnya. Tapi sebagai muslim, saya rasa kita tahu jawabnya. Bahwa orang yang tengah bermujahadah di jalan Allah, yang memiliki Visi Besar, pasti akan selalu memiliki spirit besar untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Ya, kedekatan pada Allah itulah sumber energi utama orang-orang yang berjuang dengan benar. Bila bukan karenaNya, tak perlu diragukan bahwa niat yang salah, malas dan putus asa akan menggerogoti amanah kepemimpinan nantinya.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah masa pembuktian seorang Muslim. Bukti atas tekad kuat, bukti kualitas keimanan. Menyesal karena malam ke-21 saya tak i'tikaf, Jum'at 10 Agustus 2012 saya putuskan untuk bermalam di Mesjid. Kebetulan, kala itu saya memang tengah berada disana, di tempat orang itu berdinas.

Selepas 2 rakaat shalat dan beberapa lembar tilawah, ternyata badan sudah tak bisa diajak kompromi. Sekitar pukul 10 lewat, terdengar suara sirine dan rangkaian mobil memasuki rumah dinas ini. "Sang istri baru pulang", tebak saya. Lalu pukul 11 lewat, kembali terdengar gaduh yang sama. "Nah kali ini,sang suami yang pulang", terka saya lagi. Lelah, saya pun rebah. Tak ada siapapun disini, cuma saya sendiri.

Alangkah kaget, sekitar pukul 00.30 dua sosok itu memasuki mesjid. Saya yang tengah terkantuk-kantuk meronjat dan membalas sapaan mereka seadanya. Karena gugup dan malu, kantuk pun rasanya terusir dan saya kembali meneruskan tilawah.

Lelaki itu lalu melaksanakan shalat, sekitar 3 meter saja disamping kiri saya, dan sang istri melakukan hal sama di belakang. Selepas shalat, Ia membaca beberapa lembar Al Qur'an, dengan suara yang telah parau. Tak lama, tilawah parau itu pun telah jelas jadi dengkuran.

Dalam hati, saya tersenyum. Menganggap wajar suara dengkuran itu. Dengkuran orang lelah yang siangnya telah melakukan sidang terbatas bersama Presiden RI di Jakarta dan sorenya silaturahim dengan warga Purwakarta. Malamnya ia tarawih keliling di sebuah mesjid di kawasan bandung.

Selepas dirasa cukup porsi tilawah malam ini, saya kembali beranjak shalat. 2 rakaat panjang kembali. Merapal 3 halaman pertama surat kedelapan, surat Al Anfal, surat yang apik diisi pesan-pesan perjuangan.

Ketika salam, baru saya melihat mereka berdua di belakang.

Sang istri tersandar pada lemari penyimpanan mukena, lelap berbekal selimut. Dan sang suami, bersandar pada sang istri. Lelap dengan dengkuran yang terdengar lebih damai. Pemandangan yang sangat indahn damai dan mendamaikan.

Kiranya setiap pemimpin seperti itu. Diujung lelah atas aktivitas yang padat, mereka berserah pada Allah. Mereka pertemukan iman mereka dengan jaminan dan Janji-jani Allah atas berjuta karuniaNya di sepuluh malam terakhir.

Saat kemudian shubuh datang, lelaki itu sudah siaga di Mesjid. Saya jadi orang ketiga yang memasuki mesjid setelah ia dan muadzin. Selepas iqamah, mantap ia melangkah ke mimbar imam. Mengecek anak, keenamnya ada. Begitu pun sang istri.

Mantap ia bertakbir, memimpin Shalat semantap ia memimpin Jawa Barat.

Terima kasih atas inspirasinya, Pak Gubernur Ahmad Heryawan, dan Ibu Netty Prasetyani.


*repost dari: http://mataronis.blogspot.com/2012/08/sang-umara.html