4 Maret 2014

Anis Matta Akan Launching Buku "Gelombang Ketiga Indonesia" di IBF


InsyaALLAH buku terbaru saya yang berjudul Gelombang Ketiga Indonesia akan diluncurkan tanggal 5 Maret 2014 ini, di Islamic Book Fair 2014 Jakarta.. Di acara yang sama juga, insyaALLAH saya akan menjadi narasumber pada Talkshow "Narasi Kearifan Dalam Berpolitik", 14.30-16.00.. Sampai bertemu disana.. (Anis Matta)

3 Maret 2014

Pileg, 6 Pilkades di Boyolali Ditunda


Boyolali — Enam pemilihan kepala desa (Pilkades) di Kabupaten Boyolali pelaksanaannya terpaksa ditunda hingga tahun depan. Penundaan ini untuk mensukseskan Pemilu Legislatif (Pileg) serta Pilpres. Enam kepala desa tersebut masa kerjanya berakhir tahun ini.
Menurut Kasubag Aparat Pemerintah Desa, Bagian Pemdes Setda Boyolali, Eko Sumardiyanto, Jumat (28/2), penundaan Pilkades ini sesuai dengan surat Menteri Dalam Negeri Nomor 140 /7635/ PMD tertanggal 8 Januari 2014 tentang Pilkades tahun 2014.
Dalam surat tersebut tertulis menyarankan agar Pilkades yang dilaksanakan tahun 2014 diundur untuk menyukseskan Pileg dan Pilpres. Namun jika kondisi memungkinkan, Pilkades tetap dapat dilaksanakan sesuai jadwal di tahun ini.
“Kita akan ikuti anjuran tersebut,pelaksanaan Pilkades kita tunda hingga tahun depan,” ungkap Eko, Jumat (28/2).
Enam desa yang jadwal Pilkadesnya diundur yakni Desa Kopen [Kecamatan Teras], Desa Ngagrong [Ampel], Desa Glintang [Sambi], Desa Kedungrejo [Kemusu] dan Desa Gubug [Cepogo]. Sementara dijelaskan juga, sebelum masa jabatan habis, camat harus sudah mengajukan pengganti kades dua minggu sebelum masa jabatan habis. Penunjukan pejabat Kades ini diambilkan dari PNS di kecamatan desa setempat berada.
“Dengan begitu tidak ada kekosongan jabatan,” imbuh Eko.

Sumber: Timlo.net

2 Maret 2014

Mencermati ‘Tarian Politik’ PKS


Oleh: Afrianto Daud
Suka atau tidak, semenjak kelahirannya partai yang sebelumnya bernama PK ini terus saja menjadi sorotan publik, menjadi buah bibir dan mungkin juga sering ‘dipergunjingkan’. PKS seperti tidak pernah kehabisan energi dan ide untuk tetap bisa membuat berita. Setiap aksi, kebijakan, perilaku dan ucapan para politisinya tak jarang menimbulkan pro dan kontra, melahirkan sejuta cerita dengan nada warna warni; mulai dari puja puji pecinta sejatinya sampai caci maki para pembencinya. Terlalu banyak list untuk dibuat di sini terkait isu pro kontra dari partai yang lahir di era reformasi ini. Jika anda mengikuti berita politik Indonesia 15 tahun terakhir, anda pasti bisa menemukan sendiri contoh pro kontra yang saya maksud.
Sekali lagi, berjuta pasang mata terus memperhatikan aksi dan liukan tarian mereka di panggung politik Indonesia selama lima belas tahun itu. Jutaan jemari mungkin juga telah menari menuliskan namanya pada keyboard komputer, laptop, tablet dan sejenisnya. Karenanya, tak heran hasil riset Independent Research Institute (IRI) yang melakukan penelitian dan survey perbincangan tentang partai politik di sosial media periode Januari-Februari 2014 menyimpulkan bahwa PKS adalah salah satu partai populer yang banyak diperbincangkan di media sosial. Jika anda ketikkan kata kunci “PKS AND Partai” pada mesin pencari google, sedikitnya anda akan menemukan 9,000,000 entry dengan kata kunci ini.
Menariknya, partai ini tidak hanya dibahas dan menjadi perhatian banyak orang di dalam negeri, namun juga oleh banyak pengamat dan pemerhati politik Indonesia di luar negeri. Sebutlah diantaranya Dr. Karen Brook (Dosen di Cornel University-USA),Ellen Nakashima (jurnalis Washington Post), Sydney Jones (peneliti di International Crisis Group/ICG), atau Greg Barton (professor di Monash University, Australia). Mereka adalah para Indonesianis yang cukup sering membahas PKS. Di dunia akademik, fenomena PKS juga telah mengilhami banyak sarjana untuk meneliti dan menganalisa fenomenanya secara ilmiah. Ratusan sarjana, dari S1 sampai S3 telah meneliti partai ini. Yang paling banyak dikutip adalah thesis doktoral Yon Machmudi(The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party/PKS), di Australian National University (ANU), dan juga thesis master pengamat politik terkenal, Burhanuddin Muhtadi, dari universitas yang sama. Analisa tentang fenomena PKS juga datang dari Najwa Shihab (presenter Metro TV), ketika dia bersekolah di Fakultas Hukum, Melbourne University.
PKS itu Beda
Populer di media atau di mesin pencari semisal google tentu tidak serta merta berarti bahwa partai ini adalah partai yang hebat. Karena bisa saja orang terkenal karena jeleknya ^^. Poin saya adalah, adalah fakta bahwa partai ini adalah ‘unik’ dan karenanya selalu menarik untuk dibicarakan. PKS adalah anak kandung reformasi, karena mayoritas aktivisnya adalah mereka para pelaku gerakan mahasiswa saat menumbangkan Suharto tahun 1998. Tidak hanya itu, terlahir dari rahim pergerakan adalah salah satu yang membuat partai ini berbeda dengan yang lain. Mereka membesar bukan karena bertumpu pada satu dua sosok yang dominan, namun pada sistem dan ideologi yang kuat. Inilah diantara alasan yang membuat mereka bisa bertahan dari pemilu ke pemilu, bisa selamat dari ‘tsunami SBY’ pada pemilu 2009, tetap eksis bahkan di tengah amuk badai - serangan dari ‘tujuh penjuru mata angin’ saat kasus LHI mencuat.
Ya, pengkaden yang sistemik dan ideologi keIslaman yang kental adalah kekuatan partai ini. Sebagaimana diakui oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Tjahjo Kumolo kepada media baru-baru ini, bahwa PKS dan PDIP adalah diantara sedikit partai dengan pola kaderisasi dan ideologi yang relatif baik. Di dua partai ini, sangat jarang ditemukan ada seseorang yang bisa ‘tiba-tiba’ menjadi petinggi struktural partai. Dari sisi ideologi, Anis Matta mengatkan bahwa PKS memiliki kader dengan mentalitas ‘pemburu surga’. Dari pilihan kata ini, anda bisa eksplor sendiri seberapa kuat dan dalamnya ideologi kader partai berlambang padi emas ini.
Dari aspek pengkaderan ini, PKS beruntung karena mereka behasil masuk dan diterima oleh kalangan menengah terdidik di masa-masa awal pendiriannya. Sebagaimana diungkap oleh Burhanuddin Muhtadi dan kemudian menjadi pengetahuan publik bahwa sejarah PKS tidak bisa dipisahkan dari gerakan tarbiyah yang booming di kampus-kampus besar (sekuler) Indonesia pada akhir 80-an atau awal 90an. Karenanya, mayoritas kader PKS itu dari dulu sampai sekarang adalah para mahasiswa. Anda yang kuliah pada tahuan 90-an (dan juga sekarang), mungkin pernah ‘bersentuhan’ dengan aktifitas tarbiyah mereka atau minimal berinteraksi dengan aktivis mereka. Sebagian anda bahkan mungkin pernah jadi kader, bertemu jodoh melalyu komunitas PKS, walau sekarang mungkin sudah gak lagi aktif (karena berbagai alasan) ^^. Sebagian lagi tentu masih banyak yang setia dengan manhaj dan cita-cita perjuangannya.
Para pelaku politik persis paham bahwa PKS adalah partai dengan kader mahasiswa dan sarjana terbanyak dibanding partai lain. Saya melihat para mahasiswa inilah kemudian yang berjasa besar membesarkan PKS sampai ke sudut-sudut kampung. Karena ketika mereka menjadi sarjana, sebagian mereka pulang, dan kemudian menyebarkan dakwah dan pemikiran mereka di kampung mereka. Dalam struktur ekonomi dan sosial kita, seringkali para sarjana inilah yang kemudian menjadi informal leader di kampung mereka. Pada saat yang sama, PKS pun kemudian dikenal dan menjadi pilihan di kampung-kampung itu. Inilah diantara faktor yang menjelaskan mengapa suara PKS pada pemilu 2009 tidak hanya relatif signifikan di perkotaan (sebagaimana pemilu 1999 dan 2004), tetapi juga menyebar ke berbagai pelosok kampung/desa.
Dari sisi ideologi,terobosan ideologi politik mereka (baca: ijtihad politik) yang memadukan antara dakwah yang suci dengan politik yang (biasanya dipersepsi) kotor adalah keunikan yang lain. Bahwa perjuangan mereka di panggung politik jauh melampaui tujuan-tujuan politik singkat, seperti sekedar meraih kekuasaan an sich. Karenanya inilah satu-satunya partai yang kadernya sering menolak jika ditawari (baca: dicalonkan) menjadi penguasa atau menjadi caleg saat pemilu. Inilah juga partai yang dengan mudah melakukan pergantian ketua umumnya, tanpa intrik dan atau kegaduhan seperti di partai lain.
Komunitas PKS adalah mereka yang sedang berusaha mempraktekkan nilai-nilai Islam yang syumul (komprehensif) di lembaga negara. Islam yang tidak hanya bicara masalah aqidah dan ibadah mahdah, namun juga bicara tentang aspek politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya. Mereka sedang dan terus belajar bagaimana menjadi pribadi muslim yang baik di level individu, namun juga terampil dalam mengelola negara dan pemerintahan, memakmurkan rakyat, dan sekaligus memperkenalkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Tidak hanya di panggung politik, jauh sebelum mendeklarasikan partai, parak aktifis dakwah tarbiyah itu juga menjadi bagian penting dalam gerakan islamisasi banyak aspek kehidupan di tanah air sejak awal tahun 80-an. Jika ditelesik, di bidang pendidikan, misalnya, kader mereka adalah diantara individu yang menjadi trend settermunculnya lembaga pendidikan Islam semisal Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang sekarang menjamur. Mereka juga bagian dari tumbuhnya semangat ekonomi Islam di tanah air, dengan munculnya Baitul Mal wa Tamwil (BMT) dan juga bank syariah. Belum lagi gerakan jilbab yang massif di kalangan muslimah dan alternatif seni serta literasi Islam pada tahun-tahun itu. Pelajarilah sejarahnya, saya yakin anda akan bertemu dengan cerita para kader gerakan dakwah tarbiyah ini di balik semua itu.
Doktrin untuk menjadikan dunia politik sebagai ladang dakwah di satu sisi adalah suatu hal yang ideal, namun di sisi lain dia juga menjadi ‘lubang semut’ yang kapan saja bisa menjadi bumerang bagi PKS. Terutama ketika partai ini dianggap ‘gagal’ menjalani misinya. Di titik inilah kita bisa memahami ‘kemarahan publik’ saat PKS juga terbawa-bawa kasus korupsi pada kasus LHI (walaupun saat ini kasusnya masih belum memiliki kekuatan hukum tetap).
Sekali lagi, banyak yang marah ketika PKS juga terseret kasus korupsi itu, walau pada saat yang sama partai lain juga tersandung kasus korupsinya dan sudah terbukti jauh lebih banyak. Namun kalangan kritis ini beralasan PKS pantas dipelototin karena membawa-bawa agama ke panggung politik. Walau saya tentu juga setuju agar PKS jauh dari isu korupsi, namun alasan terakhir bagi saya adalah misleading. Orang beragama bisa saja salah atau khilaf. Sebagaimana orang yang berpuasa dan sholat juga kadang melakukan kesalahan. Kemudian, statemen di atas juga bisa salah dipahami bahwa seakan-akan partai dengan ideologi non agama (misal, kebangsaan dan nasionalis) boleh dan bisa dimaklumi jika korupsi, dan gak perlu dimaki. Apa memang ideologi kebangsaan dan nasionalis serendah itu?
Menari di tengah badai
Proses membesarnya PKS tentu tidaklah mulus. Panggung politik adalah medan perang. Sejarah pertumbuhan PKS juga diwarnai berbagai serangan, demarketting, black campaign, dan fitnah. Baik yang datang dari kekuatan asing, rival sesama parpol, maupun dari kelompok yang secara ideologis berseberangan dengan ideologi Islam yang dibawa PKS. Parpol Golkar misalnya sudah lama memberi warning para fungsionarisnya tentang potensi ancaman dari PKS terhadap esksistensi mereka sebagai partai tua. Gesekan juga terjadi sesama aktivis ormas dan partai Islam, karena PKS dianggap ‘merebut’ lahan yang sama dengan mereka. Serangan yang paling kuat dan konstan biasanya datang dari aktivis liberal dan sekularis yang menganggap ideologi yang dibawa PKS mengancam eksistensi ideologi mereka.
Aktivis liberal dan kaum sekuler di Indonesia sepertinya tak pernah berhenti melancarkan serangan kepada partai ini. Isu yang paling banyak dilemparkan adalah bahwa PKS adalah partai yang eksklusif, Islam yang dibawa PKS adalah Islam yang tidak toleran dan tidak inklusif, atau menuduh PKS sebagai partai yang tidak memiliki jiwa Indonesia dan nasionalisme. Adalagi serangan dengan praktik pologami segelintir elit PKS, ataupun isu bahwa PKS membawa hidden agenda akan menjadikan Indonesia negara Islam.
Biasanya kader PKS menjawab segala tuduhan ini dengan kerja dan kerja. Bahwa di lapangan para aktivis mereka bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang beda agama sekalipun – tentu dengan tidak harus menggadaikan aqidah. Tentang nasionalisme, saya yakin darah mereka dan cinta mereka terhadap Indonesia sama kuat dan merahnya dengan mereka para nasionalis sejati. Jika Indonesia hari ini diserang oleh asing misalnya, saya haqqul yakin, para kader PKSlah diantara mereka yang pertama angkat senjata jika diperintahkan negara untuk membela tanah air, sebagaimana dulu kemerdekaan Indonesia juga direbut dan diperjuangkan oleh pekikan Allah Akbar oleh para santri.
Terkait hidden agenda, para elit PKS semisal HNW dalam beberapa kesempatan sudah sering mengatkan bahwa bentuk negara bangsa dan Pancasila itu adalah final. Sydney Jones sendiri selain menyebut PKS sebagai partai paling cerdas, juga mengatakan bahwa PKS bukanlah partai radikal. Dia percaya bahwa PKS adalah partai yang commited menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Beberapa ceramah dan tulisan Anis Matta pada beberapa waktu terakhir yang membahas gelombang ketiga Indonesia juga menyiratkan bahwa bagi PKS pembahasan dan debat tentang sistem pemerintahan, pertanyaan tentang relasi agama dan negara itu sudah tidak relevan. Saatnya kita sebagai bangsa memasuki gelombang baru dimana semua kekuatan bangsa bersatu untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup di bawah sistem demokrasi yang makin mapan.
Kalangan liberal juga menghantam ideologi transnasionalisme yang dibawa PKS, dimana kadang mereka seperti lebih peduli dengan saudara-saudara muslim yang jauh, seperti Palestina, dan mengabaikan saudara dekat yang juga butuh bantuan. Saya yakin tuduhan seperti ini lebih didasari sentimen ideologi, karena membantu saudara yang jauh tidak berarti melupkan saudara dekat. Jika pengkritik ini benar-benar paham PKS, maka seharusnya mereka tahu bahwa kader PKS adalah diantara kelompok yang hampir selalu ada bersama susah senangnya masyarakat. Para kader mereka selalu siaga dalam setiap aksi bantuan pasca bencana, misalnya. Anda bisa tanya kepada rakyat Aceh saat tsunami, siapa diantara kelompok pertama dan terakhir (yang paling lama bertahan) dalam membantu korban saat tragedi tsunami tahun 2004 lalu. Belum lagi banyak kader mereka yang menjadi relawan di lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, Post Keadilan Peduli Ummat (PKPU), MERC, ataupun Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Kembali pada serangan tadi, pasca kasus LHI, banyak sekali suara sumbang yang meragukan eksistensi dan keberlangsungan PKS di masa datang, terutama (kembali) datang dari aktivis liberal dan beberapa kalangan kritis rasional yang menguasai sosial media. Bentuk sentimen dan sinisme para oposan ini bisa dengan mudah anda lacak di berbagai jaring socmed atau di situs berita online. Jika kelompok pertama membenci PKS karena alasan ideologis, kelompok kedua adalah mereka yang kecewa dengan beberapa fakta media terkait PKS yang mungkin masih bisa diperdebatkan.
Namun, ijinkan saya menyampaikan di sini bahwa mesin PKS terus saja bekerja dalam diam. Dengan cara mereka, PKS tetap bisa meliuk dan menari di tengah badai. Para oposan PKS mungkin bisa saja berteriak sampai ke langit di media sosial agar PKS mati, namun jantung kaderisasi PKS terus berdenyut. Jutaan kader mereka terus bekerja dan berkhidmat untuk negeri. Kader mereka yang diamanahkan di lembaga eksekutif terus membuat prestasi demi prestasi (Anda bisa telusuri sendiri deret panjang penghargaan yang diterime Aher dan Irwan Prayitno, misalnya). Gemuruh PKS, sekali lagi tidak hanya di media sosial, di perkotaan, namun juga melintas sungai dan pulau, lembah dan gunung, melewati samudera (sedikit lebbay ya :D). Jika eksistensi parpol itu dilihat dari pemerolehan suara pemilu dan pilkada, saat ini kader PKS dipercaya menjadi gubernur di empat propinsi: Sumbar, Jabar, Sumut, dan yang terbaru Maluku Utara.
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa PKS sama sekali adalah zero masalah. Saya menyadari bahwa PKS bukanlah partai malaikat. Karenanya sangat mungkin melakukan kekeliruan dan kesalahan., baik di level individu maupun komunitas. Saya berharap nurani PKS bisa mendengar segala kebisingan masyarakat yang kritis terhadap PKS belakangan. Bahwa tidak semua mereka yang mengkritik itu karena benci, saya yakin juga karena cinta. Perbanyaklah mendengar, berefleksi, meresapi, dan membalas semuanya dengan perbaikan dan amal yang lebih baik.
Bagimana dengan adanya fakta bahwa sebagian kecil kader yang keluar (atau dikeluarkan)? Bagi saya sendiri hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Jangankan keluar dari PKS sebagai parpol, sejarah Islam justru juga diwarnai sebagian sahabat rasul yang keluar (murtad) dari Islam. Mereka yang murtad itu justru generasi yang pernah bertemu dan berinteraksi lansung dengan rasulullah SAW. Jika bahkan dari agamapun ada orang yang memutuskan keluar, apalagi hanya dari parpol semisal PKS. It is not a big deal sekali lagi. Saya tahu ada satu dua ustadz mantan pendiri PK yang ‘berijtihad’ untuk say good bye pada partai ini, namun pada saat yang sama ada ratusan atau mungkin ribuan ustadz yang tetap setia dan Insyallah terus ‘menjaga’ kapal dakwah bernama PKS ini agar tetap on the right track.Asumsi sederhananya, tidak mungkin 99 orang majlis syuro atau para asaatidz di dewan syariat yang memiliki pemahaman syariat yang baik akan membiarkan atau malah bersepakat berbuat maksiat atau melakukan sesuatu yang menabrak prinsip-prinsip syariat.
Memimpin Indonesia
Melihat karakter PKS yang unik, saya optimis bahwa partai ini akan terus membesar. Bukan tak mungkin, para kader partai inilah yang akan dominan mewarnai dinamika kepemimpinan nasional kita pada masa yang akan datang. Formula sederhananya, jika ingin melihat kepemimpinan Indonesia sepuluh tahun yang akan datang, maka lihatlah kepemimpinan lembaga kemahasiswaan di berbagai kampus hari ini.
Dulu kita bisa melihat bagaimana para kader HMI menguasai banyak lembaga kemahasiswaan di kampus pada era 80-an dan 90an awal. Sekitar sepuluh tahun kemudiaan, merekalah yang dominan mewarnai kepemimpinan nasional kita 10 tahun belakangan (anda bisa melihat fenomena ini dengan memperhatikan beragam tokoh yang mengunjungi Anas Urbaningrum dulu setelah menjadi tersangka, atau ketika Anas membuat PPI setelah itu - mereka adalah para kader HMI yang tersebar di banyak posisi).
Dan jika kita kembali ke kampus dan melihat fenomena kepemimpinan lembaga mahasiswa hari ini, suka atau tidak, anda akan menemukan bahwa mayoritas lembaga kemahasiswaan kampus itu, baik yang di Jawa maupun di luar Jawa, cukup banyak ‘dikuasai’ oleh para mahasiswa yang berideologi kanan, seperti PKS. Sejak pertengahan tahun 1990an, para mahasiswa yang secara ideologi berafiliasi dengan PKS ini berhasil menggeser dominasi aktivis HMI. Karenanya, sekali lagi, bukan tak mungkin, merekalah yang akan menjadi pemimpinan nasional lima atau sepuluh tahun yang akan datang.
Banyak memang yang meragukan bahwa cita-cita PKS untuk masuk tiga besar pada pemilu 2014 hanyalah impian belaka. Tapi seperti saya katakan, jutaan kader mereka terus bekerja dalam senyap. Ada yang dengan sinis bilang, ini tidak zamannya lagi memilih partai, tapi memilih tokoh. Iya, saya setuju. Saya bicara PKS di sini tidaklah dalam konteks PKS sebagai kardus kosong yang berisi ‘hantu blau’, tapi PKS sebagai kumpulan manusia dengan semua prestasi dan keunikan jutaan kadernya.
Tentu kita berharap bahwa jika memang PKS ditakdirkan menjadi pemimpin nasional, mereka bisa menjadi pemimpin yang amanah, yang membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kita juga berharap bahwa PKS bisa memahami Indonesia yang plural. Jati diri Indonesia adalah keberagaman itu senidri. Karenanya, dalam mengelola negara dan pemerintahan PKS harus bisa menjalin kerjasama dengan semua golongan, termasuk dengan kelompok sekuler dan nasionalis. Indonesia yang majemuk tidak bisa dikelola oleh salah satu kelompok saja. Sekali lagi, PKS harus bisa bekerjasama dengan semua kekuatan bangsa dan bekerja untuk kepentingan semua golongan, tidak untuk kepentingan sempit kelompok tertentu, apalagi hanya untuk golongan PKS. Waktunya bagi PKS untuk memperkenalkan praktek Islam sebagai rahmatan lil alamin itu di lapangan, tidak hanya dikhutbahkan dari mimbar kajian para ustadz selama ini. Wallahu’alam.

* Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik, mahasiswa doktoral di Monash University, Australia.
Sumber: kompasiana.com

Gen AMPM Siap Gerakkan Pemuda Dukung Anis Matta


Jakarta–Di mana Anda biasa menemukan kumpulan pemuda tiap Jumat malam? Mungkin di bioskop atau mall. Tapi Jumat malam tadi (28/2), sekumpulan pemuda yang tergabung dalam Gen AMPM, berdiskusi bersama Anis Matta, di Ibis Hotel, Jakarta. Para pemuda ini merupakan perwakilan AMPM dari 34 provinsi se-Indonesia.
Dalam acara bertajuk ‘Why Anis Matta?’ ini, banyak terlontar pertanyaan kritis seputar majunya Anis di bursa calon RI 1. Seorang relawan Gen AMPM bertanya tentang ‘modal’ Anis untuk nyapres, apakah  yakin bisa menarik massa, mengingat PKS sedang dirundung musibah.
Anis menjawab, ada satu hal yang bisa membuat seseorang terus bekerja di bawah tekanan. Hal itu adalah keyakinan. Maka menurut Anis, jawaban atas pertanyaan itu, bisa diukur dari sebesar apa keyakinan Gen AMPM bahwa dirinya adalah pilihan yang tepat.
“Kalau orang tidak melihat keyakinan itu dalam diri Anda, bagaimana Anda bisa meyakinkan mereka?” tanya Anis retoris.
Namun Anis mengingatkan, keyakinan bukan bekal yang cukup di dunia politik. Adanya obsesi, kecintaan untuk mewujudkan obsesi itu, dan peta untuk meraih obsesi itu, adalah tiga hal yang menjadi karcis masuk ke dunia politik.
“Politik itu ibarat hutan belantara. Mudah dimasuki, namun keluarnya tidak diketahui, karena menyesatkan. Kalau masuk tanpa kesadaran, tanpa peta, dan tanpa passion, orang bisa tersesat,” tutur Anis.
Oleh karena siapa pun bisa terjun ke belantara politik, Anis yakin orang biasa pun bisa masuk dan melakukan hal-hal luar biasa untuk negeri ini. Kurang populer atau berkantong tipis, itu bukan masalah, asal dia bisa mengakalinya.
“Ada teori sederhana yang saya lakukan. Pertama, berpikir dengan cara atau hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain. Kedua, maksimalkantools yang kita punya. Misalnya, jika dari delapan tools, kita hanya punya empat, maka maksimalkan yang empat itu,” papar Anis.
Konsep Anis ini mendapat sambutan positif dari peserta acara. Seorang peserta mengungkapkan, salah satu hal yang membuat dia bergabung menjadi Gen AMPM adalah ide-ide Anis Matta, yang meski idealis, namun logis dan terukur. Peserta lain mengungkapkan, tidak banyak politisi yang bisa masuk ke kalangan pemuda, dan Anis Matta merupakan bagian dari yang sedikit itu. Oleh karena itu, para pemuda ini menyatakan keyakinan dan kesiapan mereka untuk mendukung Anis Matta, dengan menggerakkan lini pemuda di provinsi masing-masing. (dnh)
Sumber: anismatta.net

Belajar Kepemimpinan dari Tembang Gundhul Pacul | Oleh Tjahyadi Takariawan


Anda pernah mendengar tembang Jawa kuna, berjudul Gundhul Gundhul Pacul? Liriknya sangat sederhana, terkesan kocak, dan banyak dinyanyikam anak-anak kecil, pada zamannya. Konon, tembang diciptakan sekitar tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja. Tembang ini ternyata bukan mainan anak-anak, karena memiliki makna  dan filosofi yang sangat mulia dan dalam. Sebagai pitutur bagi semua orang, memberi wejangan yang sangat mengena untuk diingatkan di zaman sekarang.
Perhatikan lirik lagunya:
gundhul-gundhul pacul-cul
gembelengan
nyunggi-nyunggi wakul-kul
gembelengan
wakul ngglimpang segane dadi sak latar
wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Sebuah Kehormatan Tanpa Mahkota
Gundhul adalah kepala tanpa rambut. Semua rambutnya habis dipotong sampai ke akarnya, sehingga yang tampak hanya kulit kepala yang bersih. Kepala adalah lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang, sedangkan rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundhul merupakan simbol kehormatan tanpa mahkota.
Pacul adalah cangkul yaitu alat bekerja para petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul dalam lirik tembang ini menjadl lambang masyarakat kebanyakan, yang pada konteks sosial di zamannya diwakili oleh para petani. Mereka menggunakan cangkul untuk mengolah lahan pertanian, bekerja keras demi mendapatkan penghidupan.
Gundhul pacul mengandung makna, seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah orang yang diberi mahkota kehormatan, tetapi pemimpin adalah pembawa pacul untuk bekerja, mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat. Dalam pepatah Arab dikatakan, sayyidul qaum khadimuhum. Pemimpin bagi suatu masyarakat adalah pelayan bagi masyarakat itu. Pemimpin harus melayani, bekerja keras untuk mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpin.
Pacul, Papat Kang Ucul
Dalam falsafah Jawa, pacul adalah perlambang “papat kang ucul”, yaitu empat hal yang terlepas. Disimbolkan dengan lempeng besi segi empat. Falsafah Jawa mengajarkan, kemuliaan seseorang tergantung “apa yang dilepaskan oleh empat indera” yang ada di kepalanya, yaitu apa produk mata, hidung, telinga dan mulut.
Harusnya mata digunakan untuk melihat kesulitan masyarakat. Pemimpin harus melihat secara langsung kondisi kehidupan dan denyut nadi persoalan warga. Harus mengetahui secara jelas berbagai penderitaan yang dirasakan rakyat. Produk mata adalah penglihatan dan pengetahuan yang tajam akan kondisi masyarakat.
Telinga harus digunakan untuk mendengar keluhan masyarakat, namun jua mendengar nasehat serta masukan untuk kebaikan dirinya. Menjadi pemimpin tidak boleh arogan, tidak mau mendengar masukan dan keluhan. Produk telinga adalah pendengaran jeli yang mampu menangkap pesan kebaikan untuk kepemimpinannya.
Hidung digunakan untuk mencium “aroma” yang ada di tengah masyarakat dan ada di sekita kepemimpinanya. Ada aroma wewangian atau kebaikan, ada pula aroma busuk atau keburukan. Pemimpin harus tajam indera penciumannya untuk mendeteksi adanya kebaikan dan keburukan yang ada di sekitarnya dan ada di tengah masyarakatnya. Produk hidung adalah penciuman dan deteksi yang tajam tentang aroma kebaikan dan keburukan di sekitarnya.
Mulut digunakan untuk berkata benar, jujur dan adil. Menjadi pemimpin tidak boleh berkata penuh kebohongan, penuh kebencian, permusuhan dan semata-mata mengharap citra media.
Jika yang dilepaskan atau produk dari empat hal tersebut baik, maka baiklah nilai diri seseorang. Jika yang diproduk oleh empat hal tersebut buruk, maka buruklah nilai kebaikan dan kehormatan dirinya.
Sikap Gembelengan
Kata gembelengan diulang dua kali dalam tembang tersebut. Gembelengan artinya sikap besar kepala, sombong, arogan dan bermain-main dalam menggunakan kekuasaannya.
Gundhul gundhul pacul cul, mengandung makna, jika ada orang yang kepalanya sudah kehilangan produk kebaikan dari empat indera itu, akan mengakibatkan gembelengan.
Nyunggi wakul, artinya membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya. Wakul adalah simbol kesejahteraan rakyat. Mengandung makna, pemimpin itu membawa dan memikul amanah rakyat di atas kepalanya.
Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Tetapi dia malah menggunakan kekuasaan sebagai sarana kemuliaan diri, menggunakan kedudukan untuk berbangga-bangga di antara manusia, dan menganggap kekuasaan itu semata-mata karena kepandaian dan kehebatan dirinya. Ini mungkin karena hasil pemilihan secara langsung. Siapapun bisa menjadi pemimpin secara instan.
Kekayaan negara, sumberdaya alam, pajak adalah isi wakul yang harus disunggi tersebut. Artinya, kepala sebagai simbol kehormatan seseorang, berada di bawah bakul milik rakyat. Sebagai pemimpin ia tengah menjunjung amanah rakyat di atas kepalanya. Dengan demikian, kedudukan kepalanya berada di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?
Tentu saja pemilik bakul. Pemimpin itu hanyalah pembawa bakul, sedangkan pemiliknya adalah rakyat. Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya. Namun banyak pemimpin yang gembelengan, melenggak-lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main. Akibatnya, wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Bakul terguling jatuh dan nasinya tumpah ke mana-mana di pelataran.
Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana. Tidak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat, karena sikap gembelengan yang dimilikinya. Rakyat tetap miskin dan lapar, sumber daya yang harusnya dikelola dengan baik, justru tumpah ruah tidak pada tempatnya.
Sumber: PakCah.org