17 Juni 2026

[NGOPI DARAT (Ngobrol Perihal Dunia Akhirat)]: "Hijrah dari Penonton Menjadi Pelaku Perubahan"

Oleh Badruzzaman

Ngopi pagi di tahun baru Hijriyah ini, tiba-tiba saya teringat bahwa kalender Islam tidak lahir dari sebuah kemenangan perang. Bukan pula dari peristiwa penaklukan sebuah negeri besar.

Kalender Islam justru lahir dari sebuah perjalanan.

Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah datang kepada mereka yang hanya menonton.

Perubahan selalu lahir dari orang-orang yang berani bergerak.

Dari orang-orang yang berani berhijrah.

Tahun Baru Hijriyah selalu mengingatkan kita pada sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam: hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.

Menariknya, penanggalan Hijriyah yang kita gunakan hari ini tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bukan pula dari turunnya wahyu pertama, ataupun kemenangan dalam berbagai peperangan. Atas inisiatif Umar bin Khattab r.a., awal kalender Islam ditetapkan dari peristiwa hijrah.

Tentu bukan tanpa alasan.

Hijrah dipilih karena ia merupakan simbol perubahan. Sebuah pelajaran bahwa seorang muslim tidak boleh menyerah pada keadaan. Ketika satu jalan tertutup, ia mencari jalan lain.

Ketika dakwah menghadapi hambatan, ia menyusun strategi baru. Ketika kemungkaran merajalela, ia berusaha menghadirkan kebaikan.

Rasulullah telah memberikan teladan yang luar biasa. Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, beliau menghadapi berbagai bentuk penolakan, intimidasi, penghinaan, pemboikotan, bahkan ancaman pembunuhan.

Namun beliau tidak pernah berhenti. Beliau terus bergerak, terus berikhtiar, dan terus mencari jalan perubahan.

Hingga akhirnya beliau harus meninggalkan tanah kelahirannya yang sangat beliau cintai.

Ada sebuah syair Arab yang sangat indah:

نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى

مَا الْحُبُّ إِلَّا لِلْحَبِيبِ الْأَوَّلِ

"Pindahkanlah hatimu ke mana saja engkau suka. Namun cinta yang paling dalam tetaplah kepada cinta yang pertama."

Syair ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan seseorang dengan tempat asalnya, kampung halamannya, tanah kelahirannya. Seseorang boleh saja berpindah ke tempat yang lebih maju, lebih makmur, lebih indah, atau lebih nyaman.

Namun sering kali ada kerinduan yang tidak tergantikan kepada tempat pertama yang menjadi saksi masa kecil, keluarga, dan perjalanan hidupnya.

Demikian pula Rasulullah ﷺ. Makkah bukan sekadar sebuah kota. Makkah adalah tanah kelahiran beliau, tempat tumbuh dan besarnya beliau, tempat kenangan hidup beliau bersama keluarga dan para sahabat.

Karena itu, ketika harus meninggalkan Makkah demi menjalankan perintah Allah dan menyelamatkan dakwah Islam, perpisahan itu bukanlah sesuatu yang ringan.

Hijrah Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar sering kali menuntut pengorbanan besar. Bahkan terkadang seseorang harus meninggalkan sesuatu yang sangat dicintainya demi mewujudkan kemaslahatan yang lebih luas.

Yang menarik untuk kita renungkan hari ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak memilih menjadi penonton.

Mereka tidak hanya duduk mengeluhkan keadaan.

Mereka tidak sekadar membicarakan kerusakan masyarakat.

Mereka tidak hanya mengkritik sistem yang salah.

Mereka turun tangan menjadi bagian dari solusi.

Hijrah yang mereka lakukan bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah adalah perpindahan dari kejahiliyahan menuju peradaban, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kebodohan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari ketidakberdayaan menuju kebangkitan.

Karena itu, semangat hijrah sesungguhnya adalah semangat melakukan perubahan.

Jika kita melihat kondisi bangsa hari ini, tentu masih banyak persoalan yang perlu dibenahi.

Korupsi masih terjadi.

Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah.

Pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan.

Kerusakan lingkungan terus mengancam.

Pergaulan generasi muda juga menghadapi ujian yang tidak ringan.

Namun pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi penonton?

Mudah sekali menjadi komentator.

Mudah sekali menyalahkan keadaan.

Mudah sekali menunjuk pihak lain sebagai penyebab masalah.

Tetapi perubahan tidak pernah lahir dari komentar semata.

Perubahan lahir dari orang-orang yang bersedia mengambil peran.

Ada ungkapan yang sering kita dengar:

"Yang jahat menjadi leluasa bukan semata-mata karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik."

Entah siapa yang pertama kali mengucapkannya, tetapi maknanya sangat relevan.

Banyak penyimpangan yang terjadi bukan hanya karena adanya pelaku keburukan, tetapi juga karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.

Karena itulah Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penonton.

Allah SWT berfirman:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi orang baik untuk dirinya sendiri. Ia juga harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Guru mengajar agar lahir generasi yang lebih baik.

Da.i berdakwah agar masyarakat semakin dekat kepada Allah.

Petani bekerja agar masyarakat memperoleh pangan. Pengusaha membuka usaha agar tercipta lapangan pekerjaan. Aktivis sosial bergerak agar persoalan masyarakat mendapat solusi. Masing-masing memiliki medan jihadnya sendiri.

Maka jangan pernah merasa kecil hanya karena kita tidak memiliki jabatan atau kekuasaan. Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari gedung-gedung besar atau panggung-panggung megah. Sering kali perubahan lahir dari ruang kelas yang sederhana, dari majelis taklim di kampung, dari kelompok tani, dari komunitas kecil, atau bahkan dari satu orang yang memutuskan untuk berbuat sesuatu.

Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Selama ini saya berada di posisi yang mana?

Menjadi penonton atau pelaku perubahan?

Menjadi pengeluh atau pencari solusi?

Menjadi pengkritik atau pemberi kontribusi?

Menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi?

Menjadi pengekor atau pelopor?

Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh mereka yang hanya berdiri di pinggir lapangan. Sejarah diubah oleh mereka yang bersedia turun ke medan perjuangan.

Rasulullah ﷺ dan para sahabat bukanlah penonton sejarah.

Mereka adalah pembuat sejarah.

Mereka bukan pengekor keadaan.

Mereka adalah pelopor perubahan.

Hijrah telah mengubah wajah Jazirah Arab. Dari masyarakat yang tenggelam dalam kejahiliyahan menjadi masyarakat yang dipimpin oleh cahaya wahyu. Dari suku-suku yang saling bermusuhan menjadi umat yang dipersaudarakan oleh iman.

Dan setiap perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai oleh orang-orang yang memilih menjadi pelopor, bukan pengekor.

Mungkin kita tidak mampu mengubah bangsa ini sekaligus.

Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan umat.

Tetapi setidaknya kita bisa memulai dari lingkungan terdekat.

Dari keluarga.

Dari sekolah.

Dari masjid.

Dari kelompok tani.

Dari komunitas.

Dari desa tempat kita tinggal.

Selamat Tahun Baru Hijriyah.

Saatnya berhenti hanya mengomentari keadaan.

Saatnya ikut mengambil bagian dalam perubahan.

Jangan menunggu semua orang bergerak.

Jangan menunggu keadaan menjadi ideal.

Jangan menunggu memiliki kekuasaan yang besar.

Sebab setiap perubahan besar selalu dimulai oleh orang-orang biasa yang mau melakukan sesuatu yang luar biasa.

Dan jangan bertanya apa yang sudah diberikan umat ini kepada kita.

Tanyakanlah, apa yang sudah kita berikan untuk umat ini. Karena kelak di hadapan Allah, yang akan ditanyakan bukanlah seberapa banyak masalah yang berhasil kita komentari, tetapi seberapa besar ikhtiar yang telah kita berikan untuk memperbaiki keadaan.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah keberanian berpindah dari diam menuju tindakan, dari keluhan menuju solusi, dari penonton menjadi pelaku perubahan, dan dari pengekor menjadi pelopor kebaikan.


 

13 Juni 2026

Ratusan Simpatisan PKS Hadiri Reses Wakil Ketua DPRD Boyolali di Camp Bell Two Edu Park

 

BOYOLALI – Ratusan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan masyarakat menghadiri kegiatan Reses dan Serap Aspirasi Masyarakat yang digelar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Boyolali dari Fraksi PKS, Nur Arifin, di Camp Bell Two Edu Park, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi forum komunikasi antara wakil rakyat dengan masyarakat untuk menyerap berbagai aspirasi, masukan, dan usulan pembangunan dari warga di Daerah Pemilihan (Dapil) I Kabupaten Boyolali.

Ketua DPC PKS Kecamatan Teras, Mulyanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Tawangsari, Yayuk Tutik Supriyanti, yang telah memberikan izin penggunaan lokasi kegiatan.

Pada kesempatan itu, Mulyanto juga memperkenalkan Nur Arifin sebagai Anggota DPRD Kabupaten Boyolali dari Dapil I sekaligus Wakil Ketua DPRD Boyolali dari Fraksi PKS.

Selain itu, ia menyoroti masih adanya citra negatif terhadap partai politik di tengah masyarakat. Karena itu, menurutnya, seluruh kader partai perlu terus melakukan introspeksi dan kembali kepada khittah perjuangan dalam melayani masyarakat.

"PKS memiliki Unit Pembinaan Anggota (UPA) sebagai wadah pembinaan, silaturahmi, dan bertukar pikiran antaranggota. Hal ini menunjukkan bahwa PKS bukan partai yang hanya hadir menjelang pemilu, tetapi terus bekerja dan hadir di tengah masyarakat sepanjang waktu," ujar Mulyanto.

Sementara itu, Kepala Desa Tawangsari, Yayuk Tutik Supriyanti, menegaskan bahwa anggota DPRD merupakan wakil rakyat yang memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

"Anggota DPRD adalah wakil rakyat, sedangkan rakyat adalah ketuanya. Karena itu, masyarakat perlu memanfaatkan forum reses ini untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan yang ada di lingkungan masing-masing," katanya.

Dalam pemaparannya, Nur Arifin memperkenalkan jajaran pengurus DPD PKS Kabupaten Boyolali yang hadir dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya, ia menjelaskan sejumlah program dan kegiatan yang sedang berjalan, termasuk Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Tahun Anggaran 2026.

Menurut Nur Arifin, di Dapil I terdapat 13 titik lokasi program BKK yang akan dilaksanakan pada tahun ini. Namun demikian, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah berdampak pada berkurangnya jumlah titik program dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain menyampaikan perkembangan program pembangunan, Nur Arifin juga menginformasikan berbagai agenda dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Boyolali yang akan diperingati pada 5 Juli 2026.

Pada kesempatan tersebut, Nur Arifin mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun 2026 DPRD Kabupaten Boyolali telah membahas sembilan Peraturan Daerah (Perda). Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk turut mengawal implementasi Perda agar dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Perda yang telah dibahas dan ditetapkan perlu mendapat pengawasan bersama agar pelaksanaannya sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujarnya.

Menutup kegiatan reses, Nur Arifin mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga di tengah tantangan ekonomi yang ada saat ini. Ia mengimbau masyarakat agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menghindari utang yang tidak produktif, menjauhi jalan pintas yang berisiko, serta terus berupaya meningkatkan kreativitas dalam memperoleh penghasilan.

"Kita harus semakin cermat mengelola keuangan keluarga, mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, menghindari utang yang tidak perlu, dan terus berikhtiar mencari sumber-sumber penghasilan yang halal dan produktif," pesannya.

Kegiatan reses berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan dialog yang konstruktif. Berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan masukan dalam pelaksanaan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan DPRD Kabupaten Boyolali demi terwujudnya pembangunan yang lebih baik dan berpihak kepada masyarakat.

11 Juni 2026

Etika Berpartai: Menjaga Amanah Dakwah dalam Jalan Politik

Oleh Badruzzaman

Islam adalah agama yang ajarannya bersifat syumuliyah (menyeluruh) dan komprehensif. Karena itu, dakwah Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual semata, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, budaya, hingga politik.

Dalam pandangan Islam, seorang muslim tidak cukup hanya menjadi pribadi yang shalih (baik untuk dirinya sendiri). Lebih dari itu, ia dituntut menjadi mushlih, yaitu pribadi yang aktif melakukan perbaikan dan berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Islam mengajarkan bahwa kemaslahatan sosial tidak akan terwujud apabila umat hanya berdiam diri, bersikap pasif, dan enggan menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar akan mendatangkan akibat yang serius bagi kehidupan umat. Beliau bersabda:

 وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, atau Allah hampir saja menurunkan azab kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak dikabulkan."
(HR. At-Tirmidzi)

Hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika kebaikan tidak lagi diperjuangkan dan kemungkaran dibiarkan tumbuh tanpa kendali, maka berbagai kerusakan sosial akan muncul. Kepemimpinan dapat jatuh ke tangan orang-orang yang tidak amanah, dan keberkahan kehidupan masyarakat pun akan berkurang.

Politik sebagai Sarana Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Dalam rangka mewujudkan dakwah yang lebih efektif, terarah, dan berdampak luas, aktivitas amar ma'ruf nahi munkar perlu dilakukan secara berjamaah, terorganisasi, dan memiliki tata kelola yang baik. Semangat inilah yang sejalan dengan firman Allah SWT:
 

 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
(QS. Ash-Shaff: 4)

Ayat ini mengajarkan pentingnya kerja kolektif, disiplin organisasi, persatuan visi, dan kekuatan barisan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, salah satu wadah yang sah dan konstitusional untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat serta menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan umat adalah melalui partai politik. Oleh karena itu, aktivitas politik sejatinya dapat menjadi bagian dari ikhtiar dakwah apabila dijalankan dengan niat yang benar, cara yang benar, dan tujuan yang benar.

Pentingnya Etika dalam Berpartai

Partai politik bukan sekadar kendaraan untuk meraih kekuasaan. Lebih dari itu, ia adalah instrumen perjuangan yang harus dijalankan dengan akhlak, moral, dan etika yang luhur. Nilai-nilai tersebut bersumber dari Al-Qur'an, As-Sunnah, sirah para nabi dan sahabat, pemikiran para ulama, serta peraturan yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam sebuah  kesempatan, K.H. Didin Hafifuddin menyampaikan beberapa prinsip penting yang perlu menjadi pedoman dalam membangun etika berpartai.

1. Meluruskan Niat dan Menguatkan Motivasi karena Allah

Setiap aktivitas perjuangan harus dilandasi keikhlasan dan orientasi ibadah kepada Allah SWT. Jabatan, kedudukan, maupun kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.

Allah SWT berfirman:

"Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Demikian pula hadits yang sangat terkenal dari Umar bin Khattab رضي الله عنه:

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menguatkan Ta'liful Qulub, Ta'liful Fikrah, dan Ta'liful Harakah

Persatuan tidak cukup hanya pada tataran organisasi. Persatuan harus dibangun dalam hati, pemikiran, dan gerak langkah perjuangan.

Allah SWT berfirman:

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)

Kekuatan sebuah partai bukan hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi pada soliditas hati, kesamaan visi, dan kesatuan langkah para kadernya.

3. Membiasakan Musyawarah dalam Pengambilan Keputusan

Musyawarah merupakan tradisi yang diajarkan Islam dalam menyelesaikan persoalan dan menentukan kebijakan.

Allah SWT memuji orang-orang beriman yang:

"...urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."
(QS. Asy-Syura: 38)

Dengan musyawarah, keputusan menjadi lebih bijaksana, partisipatif, dan dapat diterima oleh seluruh unsur organisasi.

4. Membudayakan Taushiyah dan Saling Menasihati

Perjuangan politik adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Karena itu, diperlukan budaya saling menasihati, saling mengingatkan, memperbanyak ibadah, memperkuat ukhuwah, meningkatkan pengorbanan, serta memperluas amal kebajikan.

Partai yang sehat adalah partai yang di dalamnya tumbuh tradisi nasihat yang tulus, bukan budaya saling menjatuhkan.

5. Menjauhi Perpecahan dan Penyakit Hati

Salah satu penyebab melemahnya perjuangan adalah munculnya konflik internal yang dipicu oleh hasad, dengki, ego pribadi, ambisi jabatan, saling menjegal, atau "menggunting dalam lipatan".

Allah SWT mengingatkan:

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu."
(QS. Al-Anfal: 46)

Begitu pula Allah melarang prasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan perilaku yang merusak persaudaraan sebagaimana dalam (QS. Al-Hujurat: 12).

Penutup

Berpartai dalam perspektif Islam bukanlah sekadar aktivitas politik, melainkan bagian dari ikhtiar kolektif untuk menghadirkan kemaslahatan, memperjuangkan keadilan, dan menjalankan amanah amar ma'ruf nahi munkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, keberhasilan perjuangan tidak hanya ditentukan oleh strategi politik, kekuatan logistik, atau besarnya dukungan massa. Yang jauh lebih penting adalah terjaganya etika, akhlak, dan ruh perjuangan di dalamnya.

Apabila nilai-nilai keikhlasan, persatuan, musyawarah, saling menasihati, serta semangat menjaga ukhuwah terus dipelihara, maka partai akan menjadi bangunan yang kokoh (bunyanun marshush), kuat menghadapi berbagai tantangan, serta memperoleh pertolongan, kemenangan, dan keberkahan dari Allah SWT dalam menjalankan amanah dakwah melalui jalur politik dan parlemen.

Wallahu a'lam bish-shawab.

18 Maret 2026

Sarasehan Pembinaan Saksi PKS: Menguatkan Peran Relawan untuk Kemenangan


BOYOLALI - DPD PKS Boyolali menggelar Sarasehan Pembinaan Saksi pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Aula Kantor DPTD PKS Boyolali. Kegiatan ini dihadiri oleh 100-an relawan PKS dari Dapil 1 sampai 5, sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas dan soliditas saksi.

Ketua DPD PKS Boyolali, Wahyono, S. Pi, dalam arahannya menegaskan pentingnya peran saksi sebagai garda terdepan dalam menjaga amanah suara rakyat. Dengan semangat kebersamaan dan militansi, para relawan diharapkan mampu menjalankan tugas dengan profesional, jujur, dan penuh tanggung jawab.

Sarasehan berlangsung hangat dan penuh semangat, menjadi ruang konsolidasi sekaligus penguatan komitmen perjuangan. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan buka puasa bersama, mempererat ukhuwah dan kebersamaan antar relawan.

Melalui agenda ini, PKS Boyolali terus meneguhkan langkah dalam membangun kekuatan saksi yang solid, siap mengawal suara rakyat hingga kemenangan. ✊

(mp/komdigi)

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Menguatkan Nilai Kebangsaan di Tengah Masyarakat


BOYOLALI - Sebanyak 100-an peserta mengikuti kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang menghadirkan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dr. H. Abdul Kharis Al Masyhari, S.E., M. Si pada Sabtu sore, 14 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pemahaman nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Acara diawali dengan sambutan Ketua DPD PKS Boyolali, Wahyono, S. Pi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi inti oleh Dr. H. Abdul Kharis Al Masyhari, S.E., M. Si. yang mengupas secara mendalam tentang 4 Pilar MPR RI, serta relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Suasana semakin interaktif dalam sesi tanya jawab, di mana peserta antusias berdialog dan menyampaikan berbagai pandangan. Kegiatan ini pun ditutup dengan buka puasa bersama, mempererat ukhuwah dan kebersamaan.

Melalui agenda ini, diharapkan nilai-nilai kebangsaan semakin tertanam kuat, serta mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI.

(mp/komdigi)