18 Mei 2015

Disela Reses, Abdul Kharis Konsolidasi Dengan Kader PKS Dapil Jateng VI

Menjalani kegiatan reses Masa sidang IV Tahun 2014-2015 tidak hanya dimanfaatkan anggota DPR RI asal daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah (Jateng) V, Abdul Kharis Almasyhari untuk menyambangi konstituennya. Namun, disela-sela kegiatan serap aspirasi di dapilnya, Kharis juga menyempatkan untuk menjalankan tugas struktural DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan mengunjungi Dapil Jateng VI yang meliputi kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang dan Kota Magelang.
Salah satu kegiatan yang dilakukan Kharis di Dapil Jateng VI diantaranya menghadiri pelantikan struktur seluruh pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKS Se-Kabupaten Purworejo, Jum'at (15/5) kemarin.
Dalam kesempatan itu, Kharis mengajak seluruh pengurus DPC baru yang telah dilantik untuk terus menggiatkan kegiatan-kegiatan PKS di masyarakat. Selain itu, dia juga mengajak seluruh kader PKS Purworejo menjaga semangat dan memperbaiki kualitas maknawiyah dengan terus mengikuti kegiatan-kegiatan tarbawi yang diselenggarakan struktur.
"Konsolidasi struktur harus terus dikokohkan. Jadilah yang pertama dalam menyelesaikan masalah di masarakat. Jaga maknawiyah dengan menjaga halaqoh, mabit dan mukhoyyamnya sehingga kita bisa optimis untuk mendapatkan kursi DPR RI dari dapil enam," katanya.
Selepas menghadiri pelantikan pengurus PKS di Purworejo, Kharis melanjutkan kunjungannya dengan melakukan konsolidasi kader di Wonosobo. Dalam kesempatan itu, Kharis mengajak kader PKS Wonosobo untuk terus melakukan kebaikan setiap waktu walaupun tidak sedang mendekati pemilihan umum.
"Bedanya kita dengan partai lain adalah kita selalu menebar kebaikan kapanpun walaupun tidak sedang pemilu," pungkasnya. (AR)

Masa Reses, Abdul Kharis Kembali Serap Aspirasi Warga Boyolali


Boyolali - Memasuki masa reses sidang ketiga tahun 2014-2015,anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), Abdul Kharis Almasyhari kembali turun ke bawah menyerap aspirasi warga Kabupaten Boyolali, Kamis (14/5) setelah sebelumnya juga menyerap aspirasi di berbagai daerah di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Dalam lawatannya kali ini, Kharis, sapaan akrab Abdul Kharis menyambangi konstituennya di dua lokasi yaitu di Banyudono dan di Ngemplak.

"Kami akan mengoptimalkan reses ini dengan lebih banyak bertemu warga. Dengan bertemu warga secara langsung, penyerapan aspirasi akan lebih optimal." Ujar Abdul Kharis

Tak menyia-nyiakan kesempatan bertemu langsung anggota DPR RI, beberapa warga langsung menyampaikan aspirasinya. Salah satunya warga Kismoyoso yang menyampaikan harapannya agar pemerintah memperhatikan jalan menuju area persawahan. 

"Akses jalan parah kalau musim penghujan sehingga kami kesulitan mengangkut hasil panen." Ujarnya

Sementara itu, salah satu warga di Banyudono mempertanyakan kebijakan pemerintah yang semakin tidak pro rakyat.

"Apa-apa sekarang mahal. Kebutuhan pokok naik, BBM naik, semuanya naik. Kami sebagai rakyat kecil sangat terbebani dengan berbagai kenaikan harga tersebut." Ujarnya

Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan warga tersebut, Abdul Kharis berjanji akan meneruskan dan mengawal aspirasi tersebut ke pemerintah terkait. 

"Kami akan perjuangan setiap aspirasi yang masuk. Aspirasi ini merupakan masukan yang bagus bagi kami untuk kami sampaikan kepada pemerintah agar proses pembangunan bisa merata." Pungkas Abdul Kharis.

Nostalgia Masa Lalu di Festival Kuliner Boyolali

Timlo.net - Nanin

Boyolali - Aneka makanan dan jajanan dipamerkan dalam Festival Kuliner sebagai rangkaian peringatan HUT Boyolali ke-168. Makanan yang dipamerkan bisa dicicipi pengunjung.
Festival kuliner menyajikan aneka makanan yang biasa dijual di wilayah Boyolali dan kawasan lain di sekitar Solo. Dari Boyolali, ada Soto, dawet hingga gado-gado. Tercatat sebanyak 60 pedagang makanan ikut meramaikan kegiatan tersebut.
“Festival ini bisa mengenalkan aneka makanan tradisional ke masyarakat, terutama generasi muda,” ujar Kepala Disbudpar Boyolali, Mulyono Santoso, Minggu (17/5).
Padahal, disebutkan Mulyono, makanan seperti dawet, gado-gado dan soto sudah terkenal sejak dulu kala. Selain murah, makanan ini juga bergisi tinggi.
Sementara itu,selain festival makanan, juga digelar permainan tradisional. Pesertanya adalah anak- anak sekolah. Mereka memperagakan sejumlah permainan seperti engklek, bentik, batengklek dan permainan kelereng. Permainan tradisional tersebut mendapat sambutan meriah pengunjung, terutama anak- anak.
Salah satu pengunjung, Yanti (49) mengaku senang melihat festival makanan dan permainan tradisional. Kegiatan ini dianggap sebagai ajang nostalgia. Apalagi dengan dolanan anak, mengingatkan saat masa kanak-kanak di desa.
“Kalau bulan purnama, dulu kita sering main bersama-sama di halaman, kalau sekarang kayaknya susah menemukan itu,” ujarnya.

Sumber: timlo.net

16 Mei 2015

Galeri Foto "Parade Tauhid" Puluhan Ribu Umat Islam Solo Raya Sambut Ramadhan

Puluhan ribu umat Islam Solo raya turun ke jalan mengikuti "Parade Tauhid"
Solo (16/5) - Puluhan ribu umat Islam Se-Solo Raya hari ini, Sabtu (16/5) turun ke jalan memutihkan kota Solo, Jawa Tengah untuk memeriahkan "Parade Tauhid" dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 1436 H. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo dan Dewan Syariah Kota Solo (DSKS) juga untuk memperingati Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Isra' dan Mi'raj.

Ketua MUI Solo, Zainal Arifin mengatakan "Parade Tauhid" ini merupakan kegiatan yang baru pertama kali diadakan di Solo untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Parade dimulai dari Masjid Kotta Barat kemudian longmarch menuju perempatan Gendengan, menyusuri Jalan Slamet Riyadi dan finish di Bundaran Gladag.

Sejumlah elemen umat Islam turut serta memeriahkan acara ini antara lain MUI Solo raya dan DSKS, Majelis Tafsir Alquran (MTA), Muhammadiyah Solo raya, Nahdlatul Ulama (NU) Solo raya, Front Jihad Islam (FJI), Ponpes Al Mukmin Ngruki, LUIS dan elemen muslim lainnya.

Berikut ini galeri foto kegiatan "Parade Tauhid" diambil dari situs voa-islam.com:

Puluhan ribu umat Islam Solo raya turun ke jalan mengikuti "Parade Tauhid"
Massa bergerak dengan membentangkan spanduk putih sepanjang 2,5 km bertuliskan kalimat tauhid
Massa bergerak dengan membentangkan spanduk putih sepanjang 2,5 km bertuliskan kalimat tauhid
Massa umat Islam Solo raya memadati Jl Slamet Riyadi Solo
Pasukan berkuda ikut memeriahkan "Parade Tauhid"


Ibu-ibu dan anak-anak juga antusias memeriahkan "Parade Tauhid"
MUI Solo sebagai penyelenggara acara

Lulus 100 %, Nilai Ujian di Boyolali Menurun

dok.timlo.net/nanin

Boyolali – Sebanyak 10.033 peserta ujian SMA MA dan SMK di Kabupaten Boyolali dinyatakan lulus semua. Hanya saja, untuk tahun ini, nilai kelulusan mengalami penurunan. Sedangkan peringkat kelulusan se Jawa
Tengah, Kabupaten Boyolali menduduki peringkat ke 6, atau naik dari tahun lalu di peringkat ke 12.
“Nilai menurun, namun peringkat mengalami kenaikan,” ujar Kabid SMA SMK Disdikpora Boyolali, Suyanta, Jumat (15/5).
Penurunan nilai ini, menurut Suyanto, salah satunya diduga dipicu sistem baru dimana nilai UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan. Akibatnya, banyak siswa yang seenaknya mengerjakan soal-soal ujian. Meski bukan menjadi
standar kelulusan, namun ujian nasional menjadi persyaratan untuk lulus.
“Kalau yang tidak melanjutkan sekolah, mengerjakannya pasti santai, tapi yang melanjutkan lebih serius,” ujarnya.
Suyanta mengungkapkan, dampak positif negatif dari perubahan kebijakan UN yang mempengaruhi kelulusan hanya dari sisi keikutsertaan siswa saja. Positifnya, tindak kecurangan UN bisa menurun signifikan. Namun negatifnya, dikhawatirkan para siswa menjadi tidak serius saat mengerjakan UN, sehingga tujuan utama UN yakni untuk pemetaan kualitas pendidikan bisa kabur.
Sementara itu, selain peringkat se-Jawa Tengah mengalami peningkatan, jumlah siswa yang diterima di jalur khusus perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) mengalami
peningkatan. Seperti misal dicontohkan, siswa SMAN Simo, tahun lalu sebanyak 27 siswa, tahun ini meningkat menjadi 41 siswa. SMAN Karanggede dari 45 siswa, tahun ini 53 siswa mendapat panggilan SNMPTN. Sedangkan
untuk SMA Negeri 3 Boyolali yang di terima melalui SNMPTN sebanyak 110 siswa, padahal tahun lalu hanya 31 siswa.
“Ini prestasi yang membanggakan di tahun ini,” tandasnya.

Sumber: timlo.net